Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Angka Kemiskinan di Wonosobo Tahun 2024-2025 Turun Hampir 2 Persen, Hasil Susenas BPS

Sigit Rahmanto • Selasa, 9 September 2025 | 23:10 WIB
Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein yang juga Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Wonosobo.
Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein yang juga Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Wonosobo.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Angka kemiskinan di Kabupaten Wonosobo mengalami penurunan signifikan sepanjang 2024–2025.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, tingkat kemiskinan di Wonosobo turun 1,94 persen. Penurunan ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah pengukuran kemiskinan di daerah tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Wonosobo Mustaqim, mengungkapkan penurunan ini cukup mengejutkan, mengingat dalam tahun-tahun sebelumnya penurunan angka kemiskinan hanya berkisar 0,03–0,05 persen.

“Dari 2024 yang masih 15,28 persen, kini turun menjadi 13,34 persen. Biasanya penurunan hanya kecil, tapi kali ini hampir 2 persen. Ini baru pertama kali,” ujarnya, Selasa (9/9/2025).

Meski demikian, Mustaqim menyebut angka tersebut masih lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Jawa Tengah. Pada periode yang sama, angka kemiskinan provinsi turun dari 10,47 persen pada 2024 menjadi 9,48 persen di 2025.

“Kalau melihat peringkat, Wonosobo masih berada di tiga terbawah, bersama Brebes dan Kebumen. Namun capaian penurunan ini patut diapresiasi,” tambahnya.

BPS menilai turunnya angka kemiskinan di Wonosobo tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah daerah.

Mulai dari pembangunan infrastruktur, program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), bantuan sosial, hingga gerakan pangan murah.

“Kebijakan itu mulai menyentuh kantong-kantong kemiskinan. Setidaknya masyarakat di lapisan terbawah kini mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka,” jelas Mustaqim.

BPS menggunakan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar baik makanan maupun non-makanan, untuk menentukan status kemiskinan. Pada 2025, garis kemiskinan di Wonosobo ditetapkan Rp 450 ribu per kapita/orang per bulan.

“Hitungannya, Rp 450 ribu itu per orang, jadi jika dalam satu keluarga lebih dari itu ya tinggal dikalikan,” tegasnya.

Jika kebutuhan dasar makanan dan non-makanan sudah terpenuhi, meskipun tidak menjadikan kaya, setidaknya keluar dari kategori miskin ekstrem. 

Menanggapi hasil itu, Wakil Bupati Amir Husein yang sekaligus Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Wonosobo menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat.

“Atas nama pemerintah daerah, saya mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh pemangku kepentingan. Penurunan hingga 1,94 persen ini capaian luar biasa. Mari kita lanjutkan perjuangan menurunkan angka kemiskinan guna mewujudkan Wonosobo yang sejahtera, adil, dan makmur,” kata Amir.

Meski naik signifikan, Amir kembali menegaskan, masih ada pekerjaan rumah masih besar.

“Kita tidak boleh cepat puas. Masih banyak warga kita yang rentan jatuh kembali ke bawah garis kemiskinan. Fokus ke depan bukan hanya menurunkan angka, tetapi memastikan mereka yang sudah keluar dari garis kemiskinan tidak kembali jatuh miskin,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah akan memperkuat strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan UMKM yang menjadi tulang punggung warga. 

“Kita akan dorong kemandirian ekonomi, akses permodalan, dan peningkatan keterampilan. Jangan sampai intervensi hanya berupa bantuan sesaat, tapi harus berdampak jangka panjang,” tandas Amir. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Kabupaten Wonosobo #bps #Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein #angka kemiskinan #Susenas #BPS Kabupaten Wonosobo