RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Pameran Topeng Lengger Wahyu Budoyo di Gedung Surorejo, Bojasari, Kertek, menampilkan lebih dari 500 topeng dari berbagai era dan aliran.
Digelar 9–12 Agustus 2025, ajang ini menyatukan puluhan komunitas seni, memamerkan warisan budaya dari berbagai daerah.
Ketua Wahyu Budoyo, Yohan Prasetyo atau akrab disapa Si Jo, mengatakan pameran menampilkan karya topeng klasik era 1960-an hingga kreasi terbaru para perajin muda. Karya-karya tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas tari topeng lengger di Wonosobo.
“Kami berkolaborasi dengan semua komunitas tari topeng lengger yang ada di sini,” ujarnya, kemarin.
Selain memamerkan koleksi, acara ini juga menyuguhkan pertunjukan seni rakyat setiap hari. Atraksi Reog Bimalukar, Topeng Ireng Mama Rimba, Lengger Taruna Budaya, Tanpo Waton, Turonggo Jati, Warok Surup & Jaranan Wahyu Margi Utomo.
Kemudian Jaranan Wahyu Budoyo, hingga Ndolalak Sekar Budaya tampil bergantian di panggung utama. Suara gamelan, hentakan kaki penari, dan sorak penonton membaur menjadi satu.
Si Jo menjelaskan, topeng lengger memiliki dua aliran utama. Jantinan cenderung kreatif dengan rambut, tanduk, dan warna mencolok. Sedangkan jambunan memilih kesederhanaan, minim aksesori, dan setia pada bentuk asli.
“Berkreasi boleh, tapi jangan meninggalkan pakemnya,” tegasnya.
Pameran ini juga membawa dampak ekonomi. Warung-warung dadakan bermunculan di sekitar gedung, melayani pembeli dari pagi hingga malam.
Pedagang mengaku dagangannya laris karena pengunjung terus berdatangan. “Alhamdulillah, pedagang senang karena dagangannya laku,” ucap Si Jo.
Pengunjung tak hanya datang dari Wonosobo, tetapi juga Purworejo dan wilayah pedesaan di kaki gunung.
Beberapa di antaranya bahkan datang lebih dari sekali. “Banyak yang bertanya kapan acara ini berakhir karena mereka ingin datang kembali,” kata Si Jo.
Suasana pameran semakin meriah dengan kehadiran rombongan TK dan PAUD yang datang di pagi hari.
Anak-anak berlarian di sela-sela ruang pamer, menunjuk topeng-topeng sambil mendengarkan penjelasan guru. Momen itu sekaligus menjadi pembelajaran sejarah seni dan budaya lokal bagi generasi muda.
Bagi warga Bojasari, pameran ini menjadi momentum kebersamaan yang jarang terjadi. Mereka berkumpul, berjualan, menari, dan menikmati karya seni bersama tanpa memandang latar belakang.
“Syukur-syukur generasi muda bisa lebih mengenal tentang topeng,” harap Si Jo. Ia menegaskan, seni topeng adalah warisan berharga yang perlu dijaga dan pameran ini menjadi salah satu cara terbaik melestarikannya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo