Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Gemulai Penari Topeng Lengger Diringi Musik Bundengan di Atas Perahu di Telaga Menjer, Harmoni Budaya dan Alam Wonosobo

Sigit Rahmanto • Minggu, 25 Mei 2025 | 00:05 WIB

 

Para penari membawakan topeng lengger di atas perahu di Telaga Menjer Wonosobo.
Para penari membawakan topeng lengger di atas perahu di Telaga Menjer Wonosobo.

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Sanggar Ngesti Laras menghadirkan pertunjukan tari topeng lengger di atas perahu Telaga Menjer, Sabtu (24/5/2025).

Pertunjukan ini diiringi musik bundengan, alat musik tradisional khas Wonosobo, dalam suasana alam yang memesona.

Para penari mengenakan kostum tradisional lengkap dan topeng lengger menari di atas perahu yang berlayar mengelilingi telaga. Sebuah paduan  harmoni budaya dan panorama alam.

Mulyani, pimpinan Sanggar Ngesti Laras sekaligus budayawan Wonosobo, menjelaskan pentas ini  merupakan rangkaian dari program Road To Kumandhanging Kidung Adi yang sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. 

“Kegiatan hari ini (Sabtu, Red) merupakan salah satu rentetan Kumandhanging Kidung Adi. Setelah kemarin workshop dan pelatihan, sekarang perform dengan tema Sekaring Roso,” ujarnya.

Ia menuturkan, tema Sekaring Roso melambangkan harapan agar semua orang selalu berbunga dan berbahagia.

“Ini merupakan kerja keras dari banyak pihak, terutama orang-orang di sekitar saya yang benar-benar konsisten dan komitmen sejak tahun 2015 membersamai saya dalam hal bundengan,” imbuhnya.

Mulyani menuturkan alasan Telaga Menjer dipilih sebagai panggung pertunjukan.

“Sebenarnya saya lebih tertarik pada empat energi: lawama, subriah, mutmainah, dan amarah. Air ini menurut saya menyejukkan ketika ada.

Selain itu, kita berkolaborasi dengan pemerintah daerah, bahwa Telaga Menjer ini memang harus terus dikenalkan kepada masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga: Komunitas Sosial Treatikal Pentaskan Monolog Dariah Lengger Lanang, Kisahkan Kontraksi Perjuangan Penari Lengger Laki-Laki

Acara diikuti 104 peserta, mulai dari anak usia 4 tahun hingga dewasa berusia 60 tahun.

Setelah pertunjukan ini,  acara dilanjutkan dengan workshop pembuatan bundengan dan ecoprint. 

Menurut Mulyani, pertunjukan ini juga menjadi eksplorasi yang menunjukkan bahwa panggung sesungguhnya tidak hanya terbatas pada gedung atau ruang pertunjukan formal.

“Semesta ini adalah panggung. Saya berharap masyarakat terus mencintai seni tradisi. Seni tradisi itu bukan seni rendahan, tapi punya nilai moral yang harus dikenal dunia,” pesannya. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#telaga menjer #tari topeng lengger #Bundengan #Menari di atas perahu #Mulyani #sanggar ngesti laras #penari