RADARMAGELANG.ID, Wonosobo--Budaya tak cuma soal warisan leluhur.
Di Wonosobo, budaya mulai dilirik sebagai senjata strategis untuk mengentaskan kemiskinan dan mendongkrak ekonomi rakyat.
Hal itu mengemuka dalam gelar budaya sekaligus seminar bertajuk Pengentasan Kemiskinan dengan Budaya Kearifan Lokal yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Beji Arum, Kecamatan Kertek, Sabtu (19/4/2025).
Hadir dalam acara tersebut seluruh anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jateng dan Kabupaten/kota se-eks Karesidenan Kedu.
Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto menegaskan, budaya adalah modal sosial yang nyata.
“Kita harus membangun Indonesia dengan budaya kita sendiri. Jangan sampai kita kehilangan jati diri bangsa,” tegasnya.
Ia mencontohkan Barisan Hokya, seni tradisi khas Wonosobo, yang kini tumbuh menjadi 340 kelompok dengan badan hukum resmi.
Menurutnya, potensi seperti ini bisa menjadi penggerak ekonomi lokal jika dikelola serius.
“Dengan strategi yang tepat, budaya bukan hanya jadi tontonan, tapi juga penghasilan. Ini bisa mengangkat UMKM, seniman, hingga pedagang kecil,” ujarnya.
Sumanto juga mendorong kolaborasi antarlevel pemerintahan agar pengembangan budaya tak berhenti di seremoni semata, tapi berdampak nyata secara ekonomi.
Senada, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyebut angka kemiskinan di Wonosobo masih berada di kisaran 15,28 persen.
Untuk itu, ia menilai pendekatan budaya jadi alternatif yang relevan dan menyentuh langsung masyarakat bawah.
Ia mencontohkan, pementasan seni yang rutin digelar bisa menghidupkan berbagai lini.
“Malam yang biasanya sepi, jadi ramai. Penonton datang, pedagang pun laris,” katanya.
Tak hanya itu, dunia digital juga ikut mendorong efek domino dari geliat budaya.
Afif menyebut, konten kreator lokal yang mendokumentasikan pertunjukan seni ikut menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang hidup.
“Kontennya jalan, YouTube-nya menghasilkan, pedagang keliling pun ikut merasakan. Semua saling menghidupi,” jelasnya.
Pemerintah daerah pun berkomitmen memperkuat posisi budaya dalam kebijakan pembangunan.
Tujuannya jelas, budaya bukan sekadar simbol, tapi alat pemberdayaan dan pengungkit ekonomi kerakyatan. (git/aro)
Editor : H. Arif Riyanto