RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Komunitas Seni Saras Swara Indonesia menggelar seminar nasional dan workshop Inovasi dan Konservasi Kesenian Tradisi, di Pendopo Kabupaten kemarin (8/1/2025).
Menghadirkan narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Yakni Zulfikar, Bayu, Merak, dan Atmaja. Membahas tentang "Aktualisasi Musik Tradisi: Warisan untuk Masa Depan".
Zulfikar menyoroti pentingnya memandang musik tradisional sebagai entitas hidup yang kaya nilai filosofis.
“Musik tradisi bukan sekadar objek mati. Tradisi ini adalah dialog yang terus berlangsung dan mencerminkan nilai-nilai mendalam,” jelasnya.
Bayu melanjutkan dengan pembahasan tentang tantangan mempertahankan identitas musik tradisi di tengah modernisasi.
"Kreativitas kita harus tetap berakar pada tradisi, bukan sekadar menempel inovasi," tegasnya.
Merak menguraikan teknik penciptaan musik berbasis tradisi, seperti penggabungan gaya musik, eksplorasi akustik, hingga pemanfaatan elektroakustik.
“Dengan inovasi ini, kita bisa menciptakan karya yang lebih relevan dan adaptif,” paparnya.
Sementara itu, Atmaja menekankan perlunya inovasi berkelanjutan dalam produksi musik tradisi.
“Kita perlu membangun rantai inovasi yang terintegrasi dengan konsep, pengetahuan, dan imajinasi untuk menjawab tantangan zaman,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat berharap kegiatan ini mampu mendorong generasi muda untuk lebih terlibat dalam pelestarian seni tradisional.
“Mari kita jadikan seni budaya sebagai identitas Wonosobo yang semakin dikenal luas,” pungkasnya.
Kabupaten Wonosobo dianggap menjadi salah satu kota yang miliki ragam budaya dan seni yang khas.
Untuk itu, upaya pelestarian seni dan budaya tradisional terus digencarkan demi memperkuat sektor pariwisata yang menjadi andalan perekonomian daerah. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo