Di Kabupaten Magelang ada Komunitas Sepeda Onthel Wesi Kuno Salaman. Sebagai wadah bagi pecinta sepeda jadul, sarana gowes bareng sekaligus mengkampanyekan ayo hidup sehat.
Berdiri sejak bulan Mei tahun 2019, komunitas sepeda onthel wesi kuno Salaman sudah resmi terdaftar di Komunitas Sepeda Onthel Indonesia. Komunitas ini berasal dari Dusun Kebonkliwon, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman.
Awalnya komunitas ini hanya memiliki 5 orang anggota, Kini sudah memiliki kurang lebih 60 anggota yang berasal dari wilayah Kecamatan Salaman dan sekitarnya. Pendiri komunitas ini adalah warga Dusun Kebonkliwon yaitu Suherman, Faizin, Faqih, dan Marsudi.
Asnuri, 58, mengungkapkan komunitas ini pada awalnya dibentuk karena menyebarnya wabah covid-19. "Saat itu pas covid kan ada anjuran untuk berolahraga. Jadi, sekalian saya ajak untuk berolahraga pakai sepeda onthel. Baru saat itu muncul ide buat bikin komunitas sepeda onthel," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Bukan hanya bersepeda bersama, komunitas ini juga melakukan kegiatan rutin bulanan seperti mujahadah sekaligus merencanakan kegiatan ke depannya. Selain itu, mereka juga kerap menghadiri pameran dan mengikuti perlombaan.
"Jadi setiap Minggu Wage itu kita ada perkumpulan, mujahadah. Nah setelah itu paginya kita ngonthel," ucap Suherman, 50, Ketua Komunitas Sepeda Onthel Wesi Kuno Salaman.
Syarat agar bisa masuk ke komunitas ini pun sangat mudah, yaitu hanya dengan memiliki kemauan dan sepeda onthel. Peminatnya dari berbagai kalangan. Anggota termuda dari komunitas ini berusia 30 tahun, dan anggota tertua berusia 65 tahun.
Bukan hanya laki-laki, komunitas ini juga memiliki 2 orang anggota perempuan. "Sekitar awal tahun komunitas kita mendapatkan juara pertama di tingkat Jawa Tengah sepeda cepat dan lambat putri. Kami mewakili Jawa Tengah untuk lomba di Bandung," jelasnya.
Suherman mengatakan bahwa komunitas ini mengedepankan kekeluargaan. Menurutnya, ketertiban di jalan raya ketika bersepeda bersama itu merupakan sebuah keharusan. Meski menggunakan jalan umum, pesepeda sebaiknya untuk berjalan teratur di tepi jalan.
"Bahkan ketika di perjalanan ada yang bermasalah sepedanya, disampaikan langsung ke (barisan) paling depan buat berhenti. Nah, baru dari ibaratnya bengkel ya itu memperbaiki. Nanti kalau sudah selesai diperbaiki, kita mulai jalan sama-sama lagi," lanjutnya.
Suherman dan Asnuri berharap agar komunitas ini dikembangkan oleh generasi anak cucu mereka karena bukan hal yang mudah untuk mendirikan komunitas ini. Mereka ingin anggota komunitas ini tetap solid dan terus menjunjung kekeluargaan dan ketertiban. (mg23/fth)
Editor : Lis Retno Wibowo