Angkot Tembarak Temanggung Makin Sepi, Sopir Hanya Menunggu Rezeki dari Charteran

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 20:04 WIB
Subianto, salah satu sopir angkot trayek Tembarak-Temanggung, yang masih bertahan. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Subianto, salah satu sopir angkot trayek Tembarak-Temanggung, yang masih bertahan. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID,Temanggung – Nasib angkutan kota (angkot) trayek Tembarak-Temanggung semakin terdesak. 

Jumlah armada yang masih bertahan disebut tinggal sekitar sepertiga dari jumlah sebelumnya. Sementara sopir yang tetap menjalankan angkutan harus menghadapi ketidakpastian penumpang setiap hari.

Hal itu diakui Subianto, salah satu sopir angkot trayek Tembarak-Temanggung. Pria 60 tahun ini mengatakan, kondisi tersebut membuat penghasilan dari menarik angkot tidak lagi bisa diandalkan seperti dahulu.

"Dulu ramai. Sekarang penumpang sudah tidak ada sama sekali. Kalau dihitung untung ruginya, banyak ruginya,"kata warga Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, saat diwawancara, Minggu (13/9/2026).

Subianto mengatakan, dari sekitar 45 armada yang dahulu melayani trayek Tembarak-Temanggung, kini diperkirakan hanya tersisa sekitar sepertiganya. 

Sebagian pemilik kendaraan memilih berhenti. Lantaran tidak lagi mendapatkan pemasukan yang sebanding dengan biaya operasional.

Subianto sudah tidak rutin menarik angkot sejak sekitar 2021-2022. Jika tidak mendapatkan penumpang rombongan atau pesanan charter, ia lebih banyak berada di rumah. Itu karena tidak memiliki pekerjaan lain seperti menggarap sawah.

"Kadang satu hari bisa dapat dua kali charteran. Kadang satu minggu tidak ada sama sekali," ujarnya.

Kondisi itu membuat penghasilan sopir menjadi sepenuhnya bergantung pada pesanan. Sementara untuk mencari penumpang secara reguler, risikonya cukup besar. Lantaran belum tentu ada orang yang menggunakan angkot.

Menurut Subianto, persoalan tersebut semakin terasa sejak pandemi Covid-19. Setelah itu, jumlah anak sekolah yang menggunakan angkot juga terus berkurang.

Bahkan, ia melihat sejumlah pelajar SMP kini memilih menggunakan sepeda untuk beraktivitas.

Perubahan pola mobilitas masyarakat turut membuat penumpang angkot semakin berkurang. Anak-anak dari keluarga pedagang yang dahulu menjadi pelanggan rutin juga banyak yang kini memilih menggunakan kendaraan sendiri.

"Dulu banyak bakul yang naik angkot ke pasar. Sekarang generasi penerusnya sudah naik sepeda. Yang dulu orang tuanya berjualan di pasar, sekarang anaknya tidak menjadi bakul," katanya.

Selain itu, perubahan pola belanja masyarakat juga ikut memengaruhi aktivitas pasar yang selama ini menjadi salah satu sumber penumpang angkot.

Subianto menyebut sebagian masyarakat kini beralih berbelanja secara daring."Orang ke pasar sekarang sudah kalah sama Shopee," ujarnya.

Berkurangnya penumpang membuat sejumlah pemilik angkot akhirnya menjual kendaraannya. Kendaraan yang sebelumnya digunakan untuk mencari penumpang tidak lagi dipertahankan sebagai angkutan umum.

Kondisi itu membuat jumlah armada semakin sedikit. Di sisi lain, berkurangnya armada juga membuat masyarakat yang masih membutuhkan angkot semakin sulit mendapatkan kendaraan.

"Penumpang takut, mau naik angkot tidak ada. Angkot juga takut, mau narik tidak ada penumpang. Sama-sama takut," katanya.

Subiyanto mencontohkan, aktivitas warga yang membawa hasil dagangan dari desa menuju Pasar Temanggung.

Dahulu, penumpang seperti pedagang menjadi salah satu pelanggan utama. Kini, dalam satu waktu terkadang hanya terdapat satu atau dua kendaraan yang mengangkut mereka.

Kendati kondisi semakin berat, Subianto bersama sebagian anggota trayek Tembarak masih berusaha menjaga komunikasi.

Mereka tetap menggelar pertemuan rutin sekitar satu bulan sekali sebagai bagian dari menjaga kekeluargaan antaranggota. "Yang penting tetap istikamah. Jangan bosan," katanya.

Subianto berharap, angkot trayek Tembarak-Temanggung suatu saat kembali mendapatkan penumpang seperti masa lalu.

Namun, ia menyadari perubahan zaman membuat kondisi tersebut sulit diwujudkan dalam waktu dekat.

 Ia sendiri mengaku tetap berusaha memenuhi kewajiban sebagai pemilik kendaraan dan mengikuti aturan pemerintah, termasuk kewajiban pajak, meski angkotnya tidak lagi rutin beroperasi.

"Saya berkecimpung di Temanggung mulai 1992 sampai sekarang. Harapannya ya bisa seperti dulu lagi. Tapi waktu dan keadaan yang tidak memungkinkan," tuturnya.

Sementara itu, Nugroho, salah satu penumpang angkot mengaku, memang jarang naik angkot untuk bepergian. Ia hanya sekali dua kali ketika longgar dan rindu kenangan naik angkot.

"Karena lebih mudah naik kendaraan pribadi atau pesan ojol. Kalau angkot kan ngetem dulu biasanya. Tapi saya satu dua kali tetap naik setiap bulannya. Cuma buat mengibati rindu masa kecil," akunya.

Nugroho berharap, angkot bisa kembali eksis. Bisa jadi ditambah ornamen modern atau pelayanan yang lebih modern. Sehingga lebih menarik untuk penumpang.

"Ya misal angkutannya juga bisa lebih modern mungkin lebih enak. Semoga kondisi ini juga dipikirkan sama pemerintah," harapnya. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
angkotan kota trayek tembarak temanggung sepi