Kemarau, Debit Mata Air di Temanggung Turun 8 Persen, Wilayah Jumo Terparah

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 18:22 WIB
Dirut Perumda Air Minum Tirta Agung Kabupaten Temanggung, Rinto Adhi Utomo. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)
Dirut Perumda Air Minum Tirta Agung Kabupaten Temanggung, Rinto Adhi Utomo. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Musim kemarau yang melanda Kabupaten Temanggung, mulai berdampak pada penurunan debit sumber mata air. Itu juga berpengaruh terhadap layanan Perumda Air Minum Tirta Agung. 

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, rata-rata debit dari sumber air yang dikelola perusahaan turun sekitar 8 persen dibanding kondisi sebelumnya.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Agung Temanggung, Rinto Adhi Utomo, mengatakan, penurunan terjadi hampir di seluruh sumber mata air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Sampai evaluasi Januari-Juli 2026, rata-rata persentase penurunan debit sekitar 8 persen. Penurunannya bervariasi, paling rendah sekitar 4 persen dan yang tertinggi mencapai 21 persen," katanya saat diwawancara, Kamis (30/7/2026).

Dari 20 sumber mata air yang digunakan Perumda Air Minum Tirta Agung, penurunan paling signifikan terjadi di kawasan Pringapus Ngadirejo.

Itu berdampak pada wilayah pelayanan Jumo. Lantaran, di lokasi tersebut, debit air disebut merosot hingga 21 persen.

Menurut Rinto, penurunan debit tersebut mulai menyebabkan gangguan aliran di sejumlah titik.

Namun, hingga saat ini pihaknya belum menerapkan sistem penggiliran distribusi air kepada pelanggan.

"Kalau gangguan aliran memang ada. Karena debit berkurang, terutama di titik yang penurunannya cukup besar. Tetapi sampai sekarang belum sampai pada tahap penggiliran," ujarnya.

Perumda Air Minum Tirta Agung saat ini melayani sekitar 54 ribu pelanggan. Dengan jumlah pelanggan tersebut, total konsumsi air mencapai rata-rata sekitar 1 juta meter kubik per bulan, atau sekitar 18,5 meter kubik per sambungan rumah (SR) setiap bulan.

Menghadapi penurunan debit, Perumda mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak.

Dengan mengingatkan pelanggan agar tidak membiarkan air mengalir atau menggunakan air secara berlebihan.

"Kami sudah membuat konten edukasi melalui media sosial. Kalau air mengalir, digunakan secukupnya. Jangan ketika air sedang mengalir kemudian dibiarkan begitu saja. Kami mengajak masyarakat untuk lebih menghemat pemakaian," katanya.

Di sisi lain, Perumda mengklaim kondisi pasokan air untuk wilayah perkotaan masih relatif aman.

Salah satu langkah antisipasi dilakukan dengan mengaktifkan sumber air dari sumur bor di kawasan Tegaltemu, Temanggung, untuk membantu suplai wilayah kota.

"Untuk kota alhamdulillah sudah bisa kita antisipasi. Sumber baru dari sumur bor di Tegal Temu mulai kita aktifkan untuk mendukung pelayanan di kota sehingga sekarang kondisinya lebih stabil," jelas Rinto.

Langkah tersebut penting karena wilayah perkotaan memiliki kepadatan penduduk dan pelanggan yang cukup tinggi.

Adanya sumber tambahan, tekanan terhadap sumber mata air yang mengalami penurunan debit dapat dikurangi. 

"Kami berharap kondisi penurunan debit sumber air tidak berkembang menjadi gangguan pelayanan yang lebih luas. Perumda juga terus mendorong efisiensi penggunaan air di tingkat pelanggan selama musim kemarau," tambah Rinto. (dev/lis)

 

Editor : Lis Retno Wibowo
perumda air minum tirta agung debit mata air menurun Jumo Rinto Adhi Utomo