RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Peternak ayam petelur di Kabupaten Temanggung mulai menghadapi tekanan berat.
Setelah harga telur di tingkat peternak terus merosot dalam sebulan terakhir.
Harga telur di tingkat peternak kini Rp17.000Rp18.000 per kilogram. Harga ini dinilai jauh di bawah batas aman usaha dan ketetapan harga acuan pemerintah (HAP) yang berkisar Rp 24.000-Rp 26.500 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut membuat sebagian peternak di Temanggung mulai memangkas produksi.
Seperti diakui Ahmad Husein, peternak ayam petelur di Desa Greges, Kecamatan Tembarak.
Ia menyebut, kondisi saat ini menjadi salah satu periode paling berat bagi usaha peternakan.
Harga telur di peternakannya turun membuat margin usaha semakin menipis meski produksi masih berjalan.
Kalau harga sekarang sudah Rp17.000, sementara HAP pemerintah Rp26.500.
Sangat berat untuk keberlangsungan peternakan, katanya saat ditemui wartawan, Selasa (30/6/2026).
Dari ayam petelurnya mampu memproduksi dua kuintal telur per hari atau sekitar 20 peti.
Namun penjualan harian saat ini hanya berkisar 1015 peti.
Sehingga sebagian produksi harus disimpan dan berpotensi menumpuk. Itu membuat kerugiannya berkisar 10-20 persen.
Yang laku sekarang paling 10 sampai 15 peti. Sisanya masih stok. Kalau terus seperti ini ya stok makin banyak, ujar Husein.
Meski kondisi sedang sulit, Husein mengaku tetap mempertahankan empat pekerjanya. Supaya tetap memiliki penghasilan.
Kalau saya (karyawan) tetap pekerjakan seperti biasa. Mereka juga tetap butuh kerja, katanya.
Peternak menduga, turunnya harga dipicu kombinasi lemahnya daya beli masyarakat.
Selain itu, berkurangnya penyerapan telur selama masa libur sekolah yang berdampak pada program distribusi pangan dan konsumsi massal.
"MBG libur, penyerapan telur berkurang sedikit. Lalu daya beli masyarakat juga turun. Ditambah harga pakan melonjak, jadi peternak bingung," tambah Husein.
Sementara itu, perwakilan Koperasi Peternakan Unggas Sejahtera (KPUS) Sektor Temanggung, Buyung Adi Nugraha, mengatakan, kondisi harga telur saat ini sudah masuk kategori tidak sehat bagi peternak.
Lantaran harga jual telur berada jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram.
Kalau dibanding HAP pemerintah ya cukup dalam turunnya," kata Buyung.
Menurutnya, tekanan tidak hanya datang dari turunnya harga telur. Tetapi juga biaya produksi yang masih tinggi.
Terutama harga pakan yang bergerak dinamis dan belum menunjukkan penurunan signifikan.
Yang rugi peternak. Bukan hanya soal harga telur turun, tapi harga pakan juga masih tinggi.
Jadi membuat kerugian peternak semakin hari semakin dalam, ujarnya.
Adapun tren penurunan harga tekur sudah berlangsung hampir satu bulan terakhir. Terjadi secara bertahap setiap hari.
Secara ideal, kata Buyung, harga telur di tingkat peternak minimal berada di angka Rp24.000 hingga Rp26.000 per kilogram. Supaya usaha masih bisa berjalan tanpa kerugian.
Ia memperkirakan, sebagian peternak mengalami tekanan keuntungan hingga kerugian sekitar 3035 persen. Terutama jika produksi sudah tidak efisien.
Situasi tersebut, membuat peternak mulai mengambil langkah ekstrem dengan melakukan afkir dini atau mengurangi populasi ayam petelur.
Namun langkah itu pun tidak mudah karena harga ayam afkir juga ikut jatuh. Sekarang harga afkir sudah sampai Rp11.000Rp12.000 per kilogram. Jadi peternak ini ibaratnya mundur kena, maju kena, tegas Buyung.
KPUS Temanggung meminta pemerintah segera melakukan intervensi.
Mulai dari mempercepat distribusi jagung program stabilisasi, memperbaiki regulasi bahan baku pakan, hingga memperkuat program penyerapan telur.
Seperti intervensi penanganan stunting yang sebelumnya dinilai cukup membantu pasar.
"Jika kondisi ini terus berlangsung, kasihan peternak, produksinya akan terus ditekan dan mengganggu keberlanjutan usaha unggas di Temanggung," tandas Buyung. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo