Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Sampah Residu Tiap Dapur SPPG di Temanggung Capai 70 Kilogram per Hari

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 13 April 2026 | 16:44 WIB
Petugas menata menu MBG yang akan disajikan ke siswa di Kabupaten Temanggung. Program ini merupakan program strategis nasional namun di sisi lain menghasilkan sampah residu. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang).
Petugas menata menu MBG yang akan disajikan ke siswa di Kabupaten Temanggung. Program ini merupakan program strategis nasional namun di sisi lain menghasilkan sampah residu. (Devi Khofifatur Rizqi/Jawa Pos Radar Magelang).

 

RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Volume sampah dari program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Temanggung menjadi perhatian serius.

Setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tercatat menghasilkan sampah residu hingga 50–70 kilogram per hari.

Fungsional Teknik Lingkungan DPRKPLH Temanggung, Desi Arena Sandi, mengungkapkan, sampah dari dapur SPPG tersebut, merupakan jenis residu yang tidak dapat diolah kembali. Yakni seperti kemasan kecil, plastik tertentu, hingga kertas yang sudah tercampur sisa makanan.

“Rata-rata yang kami angkut itu satu SPPG sekitar 50 sampai 70 kilogram per hari. Itu residu yang memang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya Senin (13/4/2026).

Desi menyebut, selain sampah residu, dapur SPPG juga menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar. Bersumber dari sisa bahan makanan dan makanan yang tidak habis dikonsumsi. Namun, sebagian besar sampah organik tersebut telah diarahkan untuk dikelola secara mandiri.

“Kami dorong yang organik bisa diolah di tempat, seperti jadi kompos atau pakan ternak. Jadi yang masuk ke TPA hanya residunya saja,” jelasnya.

Baca Juga: Rusunawa Mewah Harga Murah, DPRKPLH Temanggung Genjot Hunian Lewat Inovasi Digital

Kendati begitu, program MBG di Temanggung tetap harus berjalan. Lantaran merupakan program strategis nasional, meski berdampak pada peningkatan timbulan sampah.

“Program ini tetap kita dukung, tapi pengelolaan sampahnya harus benar. Jangan sampai semua dibuang ke TPA, harus selesai di sumbernya,” tambah Kepala DPRKPLH Temanggung Dwi Sukarmei.

Saat ini, seluruh dapur SPPG di Temanggung yang berjumlah sekitar 73 titik telah memiliki kerja sama dalam pengelolaan sampah. Baik melalui TPS 3R maupun sistem pengangkutan residu oleh dinas terkait.

Selain dari dapur, sampah juga muncul di lingkungan sekolah, terutama dari sisa makanan siswa yang tidak habis dikonsumsi. Kondisi ini turut menambah beban pengelolaan sampah harian.

 Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Temanggung mendorong sekolah ikut berperan aktif dalam pengolahan sampah. Terutama sampah organik, agar tidak seluruhnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Ke depan, Pemkab Temanggung juga menyiapkan sistem pengolahan sampah terpadu melalui TPST. Termasuk pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif (RDF), guna menekan volume sampah yang terus meningkat seiring berjalannya program MBG," jelas Dwi. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#sampah residu #DPRKPLH Kabupaten Temanggung #TPS3R #Makan Bergizi Gratis (MBG) #Dwi Sukarmei