Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Terjadi 25 Longsor di Awal 2026, BPBD Temanggung Tetapkan Status Siaga Darurat Banjir dan Longsor

Devi Khofifatur Rizqi • Rabu, 4 Februari 2026 | 18:36 WIB
Tanah longsor di wilayah Temanggung yang terjadi pada Januari-awal Februari 2026.
Tanah longsor di wilayah Temanggung yang terjadi pada Januari-awal Februari 2026.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung mencatat 25 kejadian tanah longsor terjadi sejak Januari hingga awal Februari 2026.

Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia di wilayah rawan bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Temanggung, Totok Nursetyanto, mengatakan, secara geografis Temanggung merupakan daerah pegunungan dengan topografi curam.

Selain itu, struktur tanah vulkanik muda yang gembur dan mudah menyerap air membuat wilayah ini rentan longsor saat curah hujan tinggi.

“Faktor dominan lainnya adalah alih fungsi lahan serta sistem drainase yang belum optimal,” kata Totok saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

Untuk menekan risiko bencana, lanjut Totok, BPBD Temanggung telah melakukan berbagai langkah mitigasi.

Di antaranya, memberikan informasi daerah rawan bencana kepada masyarakat serta menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.

"Kami berikan mitigasi awal ke masyarakat. Sehingga warga di daerah pegunungan wilayah Temanggung, bisa lebih waspada dengan ancaman bencana," katanya.

Adapun 25 kejadian bencana longsor tersebut, rata-rata terjadi di wilayah Gemawang, Candiroto, Pringsurat, Kaloran, Tretep, Ngadirejo, Parakan, hingga Kandangan.

Selain itu, BPBD juga mengembangkan sistem peringatan dini curah hujan dan tanah longsor. Hal itu dengan memasang 85 unit alat yang tersebar di 20 kecamatan. 

"Kami juga memasang dua unit alat deteksi gerakan tanah milik BMKG yang terpasang di wilayah Muncar, Kecamatan Gemawang, dan Kantor BPBD Temanggung," jelas Totok.

Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, BPBD telah membentuk 72 Desa Tangguh Bencana (Destana). Rinciannya, 34 destana dibentuk BPBD dan 43 destana hasil kerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Pada tahun 2026, BPBD merencanakan pembentukan destana di lima desa tambahan.

Totok menambahkan, saat ini terdapat 79 organisasi relawan penanggulangan bencana yang aktif di Kabupaten Temanggung dengan jumlah personel sekitar 2.646 orang.

Seiring masih tingginya potensi bencana hidrometeorologi, Pemerintah Kabupaten Temanggung telah menetapkan status Siaga Darurat Banjir dan Longsor hingga akhir Februari 2026. 

"Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda potensi longsor," tegas Totok. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Siaga Darurat Banjir dan Longsor #BPBD kabupaten Temanggung #faktor alam #totok nursetyanto