RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Tradisi nyadran di Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, kembali menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang mempererat persaudaraan warga.
Nyadran yang dijalankan warga tidak hanya dimaknai sebagai ritual penghormatan leluhur, tetapi sarana memperkuat silaturahmi antarmanusia.
Pemeluk Islam, Buddha, dan Kristen terlibat bersama dalam seluruh rangkaian kegiatan. Mulai dari doa bersama, kenduri, hingga prosesi nyadran makam yang menjadi puncak acara.
Bupati Temanggung Agus Setyawan menilai, nyadran di Desa Getas menjadi contoh nyata masyarakat desa mampu merawat persatuan meski hidup dalam perbedaan keyakinan.
“Ini adalah wujud masyarakat desa di Kabupaten Temanggung, khususnya di Desa Getas, yang selalu menjalin hubungan silaturahmi walaupun berbeda keyakinan dan bisa nyawiji bersatu,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
Agus menyebut, nilai perdamaian yang tercermin dalam nyadran tidak hanya menyangkut hubungan antarmanusia.
Melainkan, relasi manusia dengan alam. Hal tersebut ditunjukkan melalui kegiatan penanaman pohon yang dilakukan bersama warga sebagai bagian dari rangkaian nyadran perdamaian.
Salah satu tradisi yang menarik perhatian adalah makan bersama dalam prosesi kenduri. Makanan yang dibawa dikumpulkan menjadi satu dan dinikmati bersama tanpa sekat.
“Makanan yang dibawa dicampur menjadi satu dan semua bebas mengambil. Ini adalah perwujudan persaudaraan yang nyata, tanpa melihat siapa yang membawa dan siapa yang makan,” kata Agus.
Menurutnya, budaya berbagi dan kebersamaan tersebut mencerminkan nilai luhur masyarakat desa yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
Dalam kesempatan itu, Agus Setyawan turut membaur dan duduk lesehan (nglemprah) bersama warga lintas agama.
Ia menegaskan, kekuatan sejati bangsa Indonesia tercermin dari keberanian merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
"Ini Indonesia banget, Nusantara banget. Kebersamaan dalam perbedaan seperti inilah cerminan jati diri bangsa kita yang sesungguhnya. Semuanya di sini nglemprah tanpa melihat latar belakang demi kedamaian dan kelestarian alam," tambahnya.
Selanjutnya, diserahkan bibit pohon kepada Mbah Sukoyo. Ia adalah inspirasi nyata, warga desa yang mampu memberikan dampak ekologis yang diakui secara nasional.
Sukoyo atau Mbah Sukoyo mengungkapkan, nyadran perdamaian adalah cara menjaga warisan leluhur yang mencakup sejarah hingga kelestarian alam.
Selain itu, peran perempuan dalam menjaga perdamaian di desa tersebut diperkuat oleh lembaga Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia.
"Tujuannya mengingat leluhur yang mewariskan kekayaan alam agar tetap terjaga untuk anak cucu. Di sini moderasi agama sudah menjadi bagian dari hidup kami sehari-hari," kata Sukoyo.
Acara ditutup dengan kenduri atau makan bersama di area pemakaman. Warga saling berbagi berkat hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas harmoni kehidupan. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo