Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Akhirnya Riki terbang ke Malaysia : Bertemu Ibunya, Pekerja Migran Temanggung yang Hilang Kontak Selama 21 Tahun Jadi Korban Penyiksaan Majikan

Devi Khofifatur Rizqi • Minggu, 7 Desember 2025 | 23:56 WIB
Bupati Temanggung Agus Setyawan melepas keberangkatan Riki dan Lilin yang hendak menemui Seni di Malaysia, Sabtu (6/12/2025).
Bupati Temanggung Agus Setyawan melepas keberangkatan Riki dan Lilin yang hendak menemui Seni di Malaysia, Sabtu (6/12/2025).

RADARMAGELANG.ID, Temanggung – Setelah penantian panjang dan jalan berliku selama 21 tahun, harapan keluarga untuk bisa memeluk Seni, 47, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Dusun Letih, Desa Mergowati, Kecamatan Kedu, menemui titik terang. 

Sang putera, Riki Alvian, akhirnya terbang ke Malaysia bertemu ibunya yang diduga menjadi korban penyiksaan majikan bertahun-tahun.

Didampingi sepupunya, Lilin Triyanah, Riki bertolak dari Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo pada Sabtu (6/12/2025). Keduanya mendapatkan fasilitas paspor dari Pemerintah Kabupaten Temanggung. 

Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menyampaikan, keberangkatan tersebut dilakukan setelah Kedutaan Besar Malaysia memberi lampu hijau. Hal itu menandakan Seni sudah dapat dijenguk keluarga.

Agus menyebut, pada 3 Desember 2025, KBRI Malaysia mengabarkan bahwa Seni sudah boleh dijenguk. 

"Setelah semua kelengkapan administrasi selesai, kami fasilitasi keberangkatan keluarganya (Riki dan Lilin). Istri saya ikut mendampingi menggunakan biaya pribadi, karena izin perjalanan saya (ke luar negeri) tidak keluar,” jelas Agus.

Agus berharap, pertemuan ini menjadi obat rindu yang sudah 21 tahun tertahan di antara ibu dan anak tersebut. “Semoga pertemuan ini membuka kembali ingatan yang lama terkubur, setelah 21 tahun mereka tidak berjumpa,” ujarnya.

Riki mengaku emosinya campur aduk. Merasa bahagia karena akhirnya bisa melihat ibunya secara langsung. Meski begitu, ia juga canggung lantaran sejak usia 3 tahun tak pernah lagi menatap wajah sang ibu.

“Meski pernah komunikasi lewat video, tapi saya tetap canggung. Apalagi sudah 21 tahun tidak bertemu. Semoga semuanya lancar,” ungkapnya lirih usai berpamitan dengan Bupati Temanggung di Pendopo Pengayoman.

Riki berharap, proses hukum ibunya di Malaysia segera selesai. Sehingga, ibunya bisa kembali pulang dan berkumpul di Temanggung.

"Semoga yang menimpa ibu bisa segera selesai. Ibu cepat kembali ke rumah," harapnya.

Kasus yang menimpa Seni mendapat perhatian serius dari Pemkab Temanggung.

Saat itu, pada Senin malam, 24 November 2025, Bupati Agus menyambangi kediaman keluarga Seni di Dusun Letih, Desa Mergowati, Kecamatan Kedu.

Di sana ia memberikan dukungan moral dan berkomitmen membantu Riki bertemu ibunya. Ia langsung memfasilitasi pengurusan paspor secara gratis.

Kemudian, Selasa, 25 November 2025, bupati berkomunikasi dengan Dubes RI. Agus melakukan video call dengan Dubes RI untuk Malaysia, Dato’ Indera Hermono, sekaligus tersambung dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Dubes menjelaskan pertemuan belum bisa dilakukan karena penyidikan polisi Malaysia masih berjalan.

Alhasil, hari itu juga, Riki dan Lilin dibawa ke Mal Pelayanan Publik (MPP) Temanggung untuk percepatan pembuatan paspor. Kamis, 27 November 2025, paspor milik Riki dan Lilin resmi terbit. Mereka menunggu izin kepolisian Malaysia melalui KBRI.

Selanjutnya kabar bahagia datang pada Rabu, 3 Desember 2025. Kabar tersebut dari KBRI meminta keluarga untuk tiba di Malaysia Jumat (5/12/2025).

Dua menit kemudian jadwal berubah menjadi Senin (8/12/2025) karena proses administrasi Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) dan izin kepolisian.

"Alhamdulillah pada Sabtu (6/12/2025) mereka bertolak dari YIA. Saya hanya mengantar Riki dan Lilin ke Bandara YIA. Momen ini menjadi langkah pertama pertemuan ibu dan anak yang telah menunggu selama dua dekade lebih," tambah Agus.

Diberitakan sebelumnya, kisah pilu dialami Seni yang dilaporkan hilang selama 21 tahun di Malaysia. 

Setelah dua dekade tanpa kabar, Seni akhirnya ditemukan dalam kondisi hidup meski mengalami penyekapan dan tidak menerima gaji dari majikannya selama bertahun-tahun.

Ia berangkat ke Malaysia untuk bekerja demi menafkahi keluarga, meninggalkan anak semata wayangnya, Riki Alfian, yang saat itu masih berusia sekitar 4 tahun.

Selama 20 tahun lebih, keluarga tidak pernah mengetahui keberadaan Seni. Enam bulan setelah keberangkatan, ia masih berkomunikasi dengan keluarganya.

Bahkan, Seni juga kerap mengirimkan surat-surat dan bercerita mengenai keadaannya di negeri orang.

Setelah itu, Seni hilang kabar. Ia juga sempat dinyatakan hilang oleh keluarganya di desa setempat.

Ketika itu pihak keluarga tidak tahu harus bagaimana. Hingga bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya keluarga ikhlas atas hilangnya Seni.

Baru awal November lalu, keluarga menerima kabar bahwa Seni ditemukan dalam keadaan selamat. (dev/lis)

 

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#Bupati Temanggung Agus Setyawan #malaysia #Kedu #korban penyiksaan #seni #pekerja migran indonesia