RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Produksi perikanan budidaya di Kabupaten Temanggung masih berada pada jalur yang sesuai target. Namun sektor ini menghadapi sejumlah tantangan di tahun ini.
Kepala Bidang Perikanan DKPPP Temanggung, Nunung Nur Chayati, menerangkan, tantangan budidaya perikanan di antaranya cuaca ekstrem, perubahan pola budidaya, hingga rendahnya tingkat konsumsi ikan masyarakat.
Meski begitu, produksi perikanan budidaya, tangkap, serta pengolahan di Kabupaten Temanggung masih sesuai target yang dilaporkan melalui aplikasi resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Target produksi budidaya masih sesuai. Untuk angka persisnya akan kami share karena seluruh data masuk di statistik perikanan budidaya, tangkap, dan pengolahan,” ujarnya Senin (17/11/2025).
Nunung menyebut, luasan lahan budidaya baik kolam maupun mina padi, telah tercatat dalam data Indikator Kinerja Utama Pemerintah Daerah (IKUPD).
Nunung mengatakan, musim hujan yang diselingi panas ekstrem, turut menjadi tantangan terbesar bagi pembudidaya ikan saat ini.
“Kalau musim seperti ini justru pembudidaya harus lebih sering nengok kolam. Saat hujan deras pH air cenderung turun menjadi asam,” jelas Nunung.
Maka, ia menyarankan pembudidaya, terutama pengguna kolam terpal, menyediakan garam khusus budidaya untuk menormalkan pH air saat curah hujan tinggi. Selain itu, pengecekan pintu air dan stabilitas kolam juga penting agar tidak terjadi kerusakan.
Terlebih, dalam kondisi ekstrem, penyakit ikan yang paling harus diwaspadai adalah virus karena penyebarannya cepat. Sedangkan jamur, bakteri, atau parasit umumnya muncul akibat penanganan ikan yang kurang tepat.
“Pembudidaya harus memastikan bibit dari tempat yang terpercaya. Induk yang bersertifikat sangat menentukan kualitas benih,” katanya.
Nunung menambahkan, pola konsumsi masyarakat kini ikut mengubah tren budidaya perikanan di Temanggung. Dulu, ikan mas menjadi primadona. Namun kini produksinya turun drastis.
“Ikan mas butuh waktu lama hingga ukuran ideal konsumsi, harganya juga lebih tinggi. Sementara nila tumbuh cepat, empat bulan panen, dan rasanya diterima masyarakat,” jelasnya. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo