RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Serapan tembakau Temanggung tahun ini relatif baik, meski kualitas panen menurun akibat curah hujan yang tinggi.
Hal itu disampaikan Bupati Temanggung Agus Setyawan, saat safari ke sejumlah perwakilan pabrik rokok di Temanggung.
Hingga September, serapan tembakau oleh pabrikan besar, termasuk PT Djarum, mencapai sekitar 70 persen dari total produksi.
"Kalau saya melihat di lapangan, tidak ada tembakau yang ngendon (mengendap) di petani karena tidak laku. Pabrikan juga menunjukkan toleransi luar biasa terhadap penurunan kualitas akibat hujan,” kata bupati, Selasa (30/9/2025).
Curah hujan berkepanjangan sejak masa tanam hingga penjemuran, lanjut Agus, menyebabkan sebagian besar daun tembakau tidak tumbuh optimal.
Selain itu, dari total lahan 13.000 hektare, diperkirakan produksi tahun ini tidak mencapai 9.000 ton.
Karena, kerusakan tembakau di lapangan mencapai 30–40 persen. Alhasil, target serapan pun diperkirakan hanya berkisar 5.000 sampai 6.000 ton.
“Bisa jadi di bawah itu karena hampir 40 persen tembakau di tegalan rusak daunnya,” tegas Agus.
Kendati begitu, harga tembakau Temanggung masih relatif stabil. Untuk kualitas D1, saat ini tercatat harga sekitar Rp105 ribu per kilogram. Kemudian untuk seri tertentu bisa mencapai Rp140 ribu.
"Kalau bicara harga, petani pasti berharap lebih tinggi. Tapi dengan kondisi hujan seperti ini, saya kira sudah win-win solution, tidak ada yang dirugikan,” tambah Agus.
Pihaknya melakukan komunikasi intens dengan sejumlah pabrikan. Agar serapan tembakau Temanggung terselesaikan hingga akhir musim panen.
"Kita selalu ajak diskusi, rata-rata pabrikan welcome. Harapannya semua hasil panen bisa terserap,” katanya.
Dalam safari ini, Bupati Temanggung bersama rombongan menyambangi perwakilan pabrik rokok Djarum di Kupen, Pringsurat, Penamas, Lungge, serta PT Wismilak Inti Makmur di Tlogorejo,Temanggung.
Sementara itu, Purchasing Manager PT Djarum, Sofani Agung, mengungkapkan pihaknya tetap menyerap tembakau yang masih layak meski kualitas menurun.
Dari target 5.000–6.000 ton, hingga kini serapan sudah di angka 70 persen.
“Selama masih usable, kami tetap serap. Bahkan tembakau cacat pun masih bisa kami terima asalkan bukan non deskrip,” ungkapnya.
Sofani juga mengapresiasi mengenai turunnya kasus penggunaan gula pada tembakau Temanggung.
Dari hasil kemitraan, hanya sekitar 2 persen yang masih ditemukan bercampur gula. "Ini menunjukkan kesadaran petani meningkat dalam menjaga kualitas,” ujarnya.
Di sisi lain, sinyal positif juga datang dari pemerintah pusat. Menteri Keuangan memastikan tidak akan ada kenaikan cukai hasil tembakau pada 2026.
Kebijakan ini dinilai akan berdampak baik terhadap pabrikan sekaligus petani.
"Kalau cukai tidak naik saja sudah sangat membantu. Dengan begitu, kemampuan pabrikan membeli bahan baku bisa tetap terjaga,” tambah Sofani. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo