RADARMAGELANG.ID, Temanggung -Legenda musik Indonesia, Titiek Puspa, meninggalkan kenangan emosional di Kabupaten Temanggung.
Karena penyanyi yang meninggal Kamis (10/4/2025) ini pernah tinggal di Temanggung.
Rumah masa kecilnya kini diubah menjadi masjid di Jalan Pahlawan, Lingkungan Gemoh, Kelurahan Butuh, Kecamatan Temanggung.
Sebelum difungsikan menjadi masjid, rumah tersebut merupakan tempat tinggal masa kecil Titiek Puspa.
Rumah yang memiliki banyak kenangan itu, menjadi warisan abadi yang dikenang masyarakat Kabupaten Temanggung hingga kini.
Pantauan Jawa Pos Radar Magelang Jumat (11/4/2025), kondisi bangunan rumah yang difungsikan menjadi masjid itu tampak bersih. Banyak tanaman yang terawat dan terlihat asri.
Sekilas, bangunan berwarna krem keputihan itu tidak terlihat seperti masjid.
Namun, saat dilihat dari dekat, terdapat mustaka dan ornamen seperti masjid pada umumnya.
"Masjid itu masih berfungsi. Banyak yang salat di sana," kata Nugroho, warga setempat, Jumat (11/4/2025).
Nugroho menjelaskan, masjid peninggalan Titiek Puspa ini bernama Masjid Birrul Waalidain(i). Diresmikan pada 4 November 2000 oleh Bupati Temanggung Sardjono, pada masanya.
Ada dua pintu masuk dalam bangunan tersebut. Pintu pertama merupakan pintu gerbang yang menghadap langsung ke Jalan Pahlawan Lingkungan Gemoh.
Pintu itu biasa digunakan warga sekitar untuk menuju ke lokasi masjid yang berada di lantai 2 bangunan.
Lalu pintu kedua berada masuk ke sisi gang. Saat dilihat, tampak seperti bangunan rumah pada umumnya.
"Masjidnya di lantai dua. Kalau lantai satu itu masih ada yang jaga. Tapi saya nggak tahu, beliau sekarang di sini atau ikut takziah ke Jakarta," jelas Nugroho.
Rumah masa kecil Almarhumah Titiek Puspa ini menjadi simbol spiritual yang dikenal oleh banyak orang.
Meski lahir di Tanjung, Kalimantan Selatan pada 1 November 1937, Kabupaten Temanggung seperti rumah sejati bagi Titiek Puspa.
"Kalau dulu itu sering berkunjung ke Temanggung setahun sekali. Karena keluarganya di makamkan di Temanggung. Tapi beberapa tahun ini tidak berkunjung," lanjut Nugroho.
Ditambahkan, Titiek Puspa datang ke Temanggung saat usianya lima tahun.
Saat itu keluarganya ikut rombongan eksodus dari Ambarawa karena gejolak masa penjajahan Jepang.
Ayahnya bernama Toegeno Puspowidjojo sedang sang ibu Siti Mariam.
Desa Greges Kecamatan Tembarak dan Desa Kranggan Kecamatan Kranggan menjadi saksi perjuangan hidup kecil Sudarwati nama lahir Titiek Puspa kala itu.
Titiek Puspa juga menempuh pendidikan di Temanggung. Bahkan, untuk bersekolah ia harus menyeberang Sungai Progo.
Dari situlah, Titiek Puspa bersama keluarganya pindah rumah di Jalan Pahlawan Temanggung yang kini berubah fungsi menjadi masjid. Masjid Titiek Puspa ini menjadi saksi perjalanan hidupnya.
Di depan Masjid Birrul Walidain (i) tersebut terdapat prasasti batu besar yang berisi tulisan : Masjid Birrul Waalidain (i) persembahan Bapak R Jatin Toegeno Poespowidjojo (alm), Ibu Siti Mariam Poespowidjojo (almh), keluarga besar Poespowidjojo. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo