RADARMAGELANG.ID, Temanggung– Harga tembakau srintil totol F di Desa Bansari, Kecamatan Bulu, Temanggung mencapai Rp 400 ribu per kilogram. Grade jenis srintil ini ada F, G dan H.
Menurut petani sekaligus pengepul tembakau, Samino, untuk sampai grade H jumlahnya tidak tentu. Tergantung kualitas tanah, bibit, dan pengolahan.
"Pengolahan jangan sampai salah. Kalau bahan, bibit, dan tanahnya bagus tapi pengolahannya salah, ya sama saja," kata pria yang juga Kepala Desa Bansari ini kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Dia mencontohkan pengolahan yakni saatnya merajang tapi tidak dirajang karena mengejar totol, tembakau seharusnya original tapi karena petani merasa kurang banyak, lalu dicampur daun lain.
Dia memperkirakan srintil original bisa mencapai 30 persen.
"Bisa jadi yang keluar srintil dalam satu rajangan itu cuma 1 atau dua. Nah persentase itu misalnya petani ngrajang 30 kranjang, bisa jadi yang srintil 30 sampai 40 persen dari 30 kranjang itu," jelas Samino.
Dikatakan srintil yang masuk padanya paling tinggi harganya Rp 400 ribu. Itupun jumlahnya sedikit.
Tembakau Temanggung, kata dia, ibarat nasi adalah lauknya. Sedikit saja sudah terasa enak.
Sebelum dia membeli tembakau srintil, biasanya dicoba terlebih dulu untuk menentukan kualitasnya.
Dia menceritakan, tetangganya pernah menjual srintil paling tinggi Rp 700 ribu per kg. Namun di daerah Lamuk bisa mencapai Rp 1,5 juta per kg. (din/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo