Momentum MTQ Nasional XXXI, Semarang Tak Cuma Punya Kota Lama

Figur Ronggo Wassalim • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 00:55 WIB
Warasverse Inclusivity digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, 11–17 September 2026, untuk menyemarakkan MTQ XXXI 2026. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Warasverse Inclusivity digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, 11–17 September 2026, untuk menyemarakkan MTQ XXXI 2026. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG) 

RADARMAGELANG.ID, Semarang – Semarang tak cuma punya Kota Lama, Lawang Sewu, atau kuliner. Kota ini juga menyimpan beragam produk ekonomi kreatif (ekraf) yang layak dikenal lebih luas.

Momentum MTQ Nasional XXXI dimanfaatkan untuk mengangkat potensi tersebut. Ribuan kafilah dari berbagai daerah menjadi sasaran promosi produk lokal Semarang.

Upaya itu terlihat dalam Warasverse Inclusivity di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, 11–17 September 2026. Sejumlah produk ekraf dipajang. Mulai batik, aksesori tembaga, kerajinan kain perca dan denim, produk perawatan tubuh, kopi hingga kaus distro.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (11/9) siang, stan-stan tersebut menawarkan produk dengan harga beragam. Salah satunya aksesori berbahan kawat tembaga dari Indonesian Fashion Chamber (IFC) melalui CanCraft.

Anting, cincin, gelang, bros, kalung hingga ikat pinggang dipajang. Harganya mulai Rp50 ribu hingga Rp1,5 juta.

Warasverse Inclusivity digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, 11–17 September 2026, untuk menyemarakkan MTQ XXXI 2026. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Warasverse Inclusivity digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, 11–17 September 2026, untuk menyemarakkan MTQ XXXI 2026. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG) 

Anggota IFC Tini mengatakan, produk tersebut dibuat dari kawat tembaga yang aman untuk kulit. Aksesori juga tidak mudah berubah warna meski terkena air maupun keringat.

“Ini produk fesyen yang kami bawa untuk dikenalkan kepada pengunjung,” ujarnya.

Potensi batik juga ditonjolkan. Klaster Batik Kota Semarang membawa motif yang mengangkat karakter khas kota. Salah satunya motif Warak yang dipadukan dengan ornamen tradisional.

Perwakilan Klaster Batik Kota Semarang Amin Restuningsih mengatakan, batik cap dipasarkan mulai Rp150 ribu. Sedangkan batik tulis mulai Rp400 ribu, tergantung bahan dan tingkat kerumitan.

“Ini kesempatan mengenalkan batik Semarang kepada masyarakat dari luar daerah,” katanya.

Tak hanya produk fesyen. Ken Runtah Community mengubah limbah kain perca dan denim menjadi produk bernilai jual. Mulai dompet, gantungan kunci, totebag hingga tas. Harganya mulai Rp10 ribuan.

Bahan bakunya berasal dari sisa produksi batik, konveksi dan garmen. Limbah tersebut diolah menjadi produk baru yang lebih bernilai.

Sementara Gayatri Jateng membawa produk anggota dan UMKM binaannya. Di antaranya taplak, placemat, scrub, parfum hingga produk kecantikan. Harganya berkisar Rp35 ribu hingga Rp100 ribu.

Perwakilan Gayatri Jateng Ine Tahira mengatakan, momentum MTQ menjadi kesempatan memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat dari berbagai daerah. Sekaligus mengenalkan Kota Lama sebagai salah satu destinasi unggulan Semarang.

Panitia Warasverse Inclusivity Uky Rahmat Basuki mengatakan, pameran sengaja digelar beriringan dengan MTQ Nasional. Tujuannya memperluas pasar produk ekraf Semarang.

“Jangan sampai Semarang hanya menjadi kota transit. Kami ingin mereka tahu bahwa Semarang bukan hanya punya Kota Lama atau Lawang Sewu, tetapi juga banyak produk kerajinan dan ekonomi kreatif,” tegasnya.

Sekitar delapan stan meramaikan area Oudetrap. Selain pameran, pengunjung juga bisa mengikuti workshop pembuatan produk kreatif pada Sabtu dan Minggu.

Warasverse mengusung empat semangat. Yakni ekonomi, komunitas, inklusi dan kreativitas. Momentum MTQ diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk ekraf Semarang untuk menembus pasar yang lebih luas.

“Harapannya perputaran ekonomi bisa melimpah. Pengunjungnya dari seluruh Indonesia. Kalau produk-produk ini laku keras, dampaknya tentu besar bagi pelaku usaha,” pungkas Uky. (fgr/zal)

 

Editor : H. Arif Riyanto
MTQ nasional XXXI tahun 2026 MTQ Nasional lawang sewu kota lama kota semarang