RADARMAGELANG.ID, Semarang- Menjalani ibadah puasa di negeri orang bukan kali pertama di jalani Abdul Aziz Agbo.
Mahasiswa asing asal Ghana, Afrika Barat ini tak menemukan perbedaan yang berarti.
Ramadan 1445 Hijriah ini, kali keduanya menjalani ibadah puasa di Indonesia.
Meski tak bisa berkumpul dengan keluarga di rumah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ini mengaku orang-orang di Indonesia sangat ramah.
Sehingga ia bisa beradaptasi dengan mudah.
"Indonesia itu very good. Orang-orangnya punya pelayanan yang sangat baik. Mereka menyambut kami dengan sangat baik, ramah, dan terbuka," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang usai mengikuti Podcast di Gedung NRC Unimus.
Abdul --sapaan akrabnya— mengaku sudah berada di Semarang selama satu tahun dua bulan. Saat menjalani puasa pertama dan kedua di Semarang, pria 21 tahun ini merasa senang.
Ia tidak mendapat kesulitan baik dalam memilih makanan atau beribadah.
Terlebih di Indonesia, masyarakat mayoritasnya muslim.
"(Ramadan kedua) Ini sangat baik, aku nggak merasakan adanya kesusahan Ramadan di sini. Baik nyari makanan atau hal lainnya. Aku merasa bebas, ini terasa sama kayak di Ghana," imbuhnya.
Abdul bahkan merasa bersyukur.
Perbedaan waktu lamanya puasa di sini lebih singkat.
Ketika di Ghana ia harus berpuasa selama 16 jam, dari pukul 03.00 pagi sampai 19.00 malam.
Sedangkan di Indonesia waktu puasanya lebih pendek, hanya sekitar 13,5 jam.
"Di Ghana itu sahurnya jam 3, buka puasanya jam 7 malam. Jadi, lebih lama di sana," akunya.
Lebih lanjut mahasiswa Unimus ini juga tak begitu merasakan homesick atau kangen dengan rumah.
Kata dia, mengenyam pendidikan di negeri orang sudah menjadi keputusannya.
Karena itu, Abdul merasa harus bertanggung jawab atas pilihannya.
"Aku buat janji sama diriku sendiri kalau ini adalah hidup yang aku pilih. Jadi aku harus bangun semuanya dari diriku. Tanpa ayah atau ibuku. Ini waktuku tanggung jawab untuk membangun hidupku sendiri. Jadi, aku pikir aku nggak yang kangen banget setiap waktu sama mereka, tapi kangen ya kadang-kadang," ungkapnya.
Meski terkadang rindu rumah apalagi di momen lebaran, Abdul menyiasatinya dengan melalukan video call.
Sehingga rasa kangen bisa sedikit terobati.
"Ketika momen hari raya datang, aku nelpon bapak ibuku, aku video call bilang kangen sambil greeting mereka Ramadan," tandasnya. (kap/aro)
Editor : H. Arif Riyanto