Living in Pancot. Berwisata tinggal di Dusun Pancot, Desa Kalisoro, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah menjadi pengalaman mengesankan. Menikmati keelokan alam, budaya khas dan keramahan warganya akan menjadi sensasi wisata luar biasa.
RADARMAGELANG.ID, Karanganyar - Tinggal di desa, menginap, ikut beraktivitas bersama warga kini menjadi tren wisata yang menarik. Terutama bagi para wisatawan dari kota besar.
Dusun Pancot Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah menawarkan program wisata yang menarik. Living in Pancot. Tinggal di Dusun Pancot beberapa hari.
Dusun Pancot Desa Kalisoro berada di ketinggian 800 mdpl. Memiliki kekayaan budaya khas, spot alam terindah dan kuliner khas Lereng Gunung Lawu.
”Living in Pancot ini mengangkat taline Nature Fun & Educatif. Wisatawan menikmati keindahan alam sekaligus belajar kehidupan di Dusun Pancot. Jadi tidak sekadar wisata tapi merasakan menjadi orang desa,”tutur inisiator program wisata Livin In Pancot, Suseno.
Baca Juga: Libur Lebaran, Pengunjung Wisata Embung Bansari Temanggung Capai 700 Orang per Hari
Ikut beraktivitas, menyaksikan kehidupan warga Pancot sembari menikmati hamparan kebun sayur, udara segar dan kuliner khas desa tentu akan menjadi pengalaman luar biasa. Petualang di alam bebas yang tak terlupakan.
Wisatawan bisa tinggal di homestay yang disediakan pengelola. Menurut Suseno ada 50 homestay yang siap menjamu wisatawan. Mereka dapat memilih paket-paket wisata yang telah disediakan.
Pengunjung diajak merasakan denyut nadi pedesaan. Kehidupan warga desa yang sarat tradisi dan kearifan lokal. Tinggal di Dusun Pancot akan menyaksikan kehidupan dan aktivitas sehari-hari warga.
“Wisatawan bisa ikut petani ke ladang. Bertanam, merawat atau memanen sayuran. Ikut langsung beraktivitas dengan masyarakat desa dalam kekuatan kultur agraris akan memberikan kesan kusus bagi wisatawan,”imbuhnya.
Dusun Pancot mem iliki lanskap pegunungan yang elok. Ada dua air terjun yang masih alami akan memanjakan para wisatawan.
Air terjun Srigunting dan air terjun Pringgodani, akan melengkapi petualangan di alam bebas dalam program Living in Pancot ini.
“Mata airnya berasal dari perut bumi Gunung Lawu bisa dijadikan bahan refleksi diri bagi wisatawan,”imbuh Suseno.
Air terjun Srigunting dengan ketinggian sekitar 10 meter menjanjikan pemandangan menyejukkan. Untuk mencapai air terjun itu, pengunjung menyusuri jalan setapak sembari menghirup udara sejuk dan mata yang dimanjakan pepohonan hijau.
Untuk menambah kesegaran bisa mandi berendam di bawah air terjun merasakan sensasi nyes.
Tak kalah menarik adalah berkuda berkeliling Dusun Pancot yang konturnya naik turun. Berkuda di tengah udara segar, hamparan kebun sayur dan hijau pepohonan pinus akan merefresh jiwa yang penat.
Namun bagi yang ingin memacu andrenalin dapat menyewa jeep untuk berkeliling dengan akses jalan khas pegunungan.
Tak hanya itu, warga setempat juga masih melestarikan seni tradisional. Seperti reog, wayang kulit dan sendratari serta ritual Mondosiyo yang dapat dinikmati oleh wisatawan.
Suseno berharap Living in Pancot ini dapat meningkatkan kunjungan wisata yang belakangan ini meredup.
Mondosiyo, Ritual Khas dari Cerita Prabu Baka
Dusun Pancot memiliki tradisi unik bernama Mondosiyo. Tradisi ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi pada 2021. Ritual Mondosiyo diadakan pada hari Selasa Kliwon wuku Mondosiyo setiap tujuh bulan sekali.
Perayaannya, berupa tradisi melempar ayam ke atap punden pendopo dusun. Ayam ini berasal dari warga yang tengah melakukan nazar. Setelah dilempar kea tap, ayam diperebutkan warga dan wisatawan.
Mondosiyo berasal dari kisah pertarungan Prabu Baka yang suka memakan daging manusia dengan ksatria Putut Tetoko. Kemenangan Putut Tetuko mengalahkan Prabu Baka dirayakan menjadi ritual Mondosiyo ini.
Sampai sekarang Mondosiyo menjadi ritual yang dilestarikan menjadi magnet wisawatan. Acara berlangsung meriah dengan pentas reog oleh warga setempat.
Upacara Mondosiyo diyakini warga setempat sebagai wujud syukur dan tolak bala. Seperti malapetaka, penyakit dan hama tanaman yang susah diberantas. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo