Oleh : Puput Puspitasari, PWI Kota Magelang
RADARMAGELANG.ID, Tegal– Guci tak kehilangan pesonanya, meski sempat dihajar banjir bandang. Alam Guci tetap bersahabat. Menawarkan keindahan, juga ketenangan.
Udara di kawasan ini pun begitu segar. Pohonnya rindang, tinggi menjulang—menyambut siapa saja yang datang. Guci masih menjadi tempat yang tepat untuk melepas penat dari sibuknya rutinitas dunia.
Kali Gung adalah bagian dari alam Guci yang tak terpisahkan. Sungai ini mengalir dari hulu Gunung Slamet dan melintasi beberapa kecamatan di Kabupaten Tegal.
Dua di antaranya, Kecamatan Bumijawa dan Bojong. Di titik inilah, terjadi pertemuan antara air sungai yang dingin dengan sumber air panas yang keluar dari kerak bumi kaki Gunung Slamet. Kini dikenal sebagai Pancuran 13.
Konon, Pancuran 13 ditemukan Mbah Klitik—seorang bangsawan dari Keraton Demak Bintoro yang diyakini masyarakat setempat memiliki nama asli Raden Aryo Wiryo. Ia juga seorang keturunan wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut.
Warga setempat, Ropi’i cerita, Mbah Klitik sudah menjadi bagian cerita turun-temurun sejak tahun 1967. Sumber air panas itu kali pertama ditemukan Mbah Klitik berada di sebuah goa kecil.
“Bentuknya seperti gorong-gorong. Kalau mau mandi, harus masuk. Dan di sekitarnya banyak pohon, kemudian dibersihkan untuk akses jalan setapak,” ujarnya pria 65 tahun itu.
Kabar penemuan Mbah Klitik itu menyebar. Air panas tersebut diyakini memberikan manfaat bagi kesehatan manusia. Maka tak heran, jika hingga saat ini, pemandian air panas di Guci dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit.
Selain pemandian air panas yang terkenal, kisah dan perjuangan Mbah Klitik tetap abadi meski raganya telah tiada.
Mbah Klitik diyakini menjadi orang pertama yang tinggal di kawasan Guci. Jenazahnya dimakamkan di Kecamatan Bumijawa, dan kini menjadi kawasan wisata religi. Tempat di mana masyarakat berziarah kubur.
Seiring dengan perkembangan zaman, Guci kemudian dipercantik oleh pemerintah dan investor lokal ikut mengelolanya. Tempat ini menjadi sangat terkenal di penjuru Nusantara.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni menyebut, kawasan wisata Guci menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) hingga Rp 12,4 Miliar di tahun 2024.
Meningkat signifikan di tahun 2025 menjadi Rp 12,8 Miliar. Meski baru saja kena musibah, pihaknya optimistis kawasan Guci bisa mengejar PAD di Rp 12,6 Miliar hingga akhir tahun 2026 nanti.
Di tengah situasi yang sulit ini, masyarakat dan pemerintah memiliki semangat yang kuat untuk bangkit. Secara gotong-royong, fasilitas mulai diperbaiki.
Jembatan penghubung dua kecamatan yang hanyut oleh banjir, kini sudah berdiri lagi meski dalam konstruksi yang sederhana—memanfaatkan bambu-bambu yang ada di sekitar kawasan.
Pun demikian dengan Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman. Kepada daerah yang akrab disapa Mas Bupati ini yakin Guci bangkit, secara perlahan, kondisinya akan normal kembali. Ia juga memastikan, kawasan Guci aman sudah untuk dikunjungi saat ini.
Bahkan setelah banjir bandang 24 Januari itu, Kali Gung tetap menggoda. Menghadirkan suasana alami, nan asri. Masyarakat bisa menikmati mandi air panas di sungai, sembari melihat bongkahan batuan yang memikat mata.
“Untuk mendongkrak pesona Guci saat ini, kami menggratiskan tiket masuk dan sudah berjalan hampir satu bulan,” ucapnya.
Menghijaukan Bumi Guci
Guji Bangkit seolah menjadi mantra lulus dari ujian saat ini. Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) se-Jawa Tengah melakukan aksi penanaman pohon pinus untuk menghijauan bumi Guci.
Lokasi penanaman tidak jauh dari Air Terjun Jedor. Kegiatan ini menegaskan masih adanya semangat dari jiwa-jiwa yang peduli dengan keberlangsungan alam Gunung Slamet.
“Kita yakin, yang kita tanam hari ini akan tumbuh dan besar, serta menyelamatkan kehidupan di sekitar Kawasan Guci ini,” tuturnya dalam acara Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tingkat Provinsi Jawa Tengah yang mengusung tema “Pers Sehat, Jaga Lingkungan, Membangun Negeri : Save Slamet Mountain, Save Tourism Guci”, Sabtu (14/2/2026).
Ahmad Kholid menegaskan, Pemkab Tegal berkomitmen menjaga keberlanjutan alam Guci dengan berbagi sentuhan ramah lingkungan.
Pihaknya juga tidak berhenti berinovasi untuk menghadirkan amenitas, hingga paket-paket wisata memenuhi kebutuhan wisatawan.
Kembangkan Guci Medical Wellness
Pelayanan Guci Medical and Wellness Tourism di Kabupaten Tegal menjadi daya tarik tersendiri. RSUD dr. Soeselo Kabupaten Tegal mengenalkan pelayanan medis yang dikombinasikan dengan pemanfaatan sumber air panas Guci dan alam terbuka di sekitarnya.
Pelayanan ini tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, namun juga kebugaran. Di mana bertujuan untuk pencegahan, pemulihan, hingga peningkatan kualitas hidup melalui pendekatan yang menyeluruh : fisik, mental, emosional.
Dokter Krissanti menjelaskan, paket ini terdiri dari hidroterapi : terapi fisik dengan media air hangat dengan pendampingan fisioterapis; akupuntur : terapi kesehatan dengan jarum halus; medical check up (MCU) : skrining kondisi kesehatan; konsultasi dan wisata kesehatan jamu (WKJ); serta forest bathing—sebuah metode terapi menenangkan pikiran di alam terbuka dengan pendampingan psikolog.
“Forest bathing akan dilakukan di hutan pinus dalam durasi waktu yang lama, di mana pasien kita tuntun untuk melepaskan pikiran yang membebani sampai mereka benar-benar bisa merasakan ketenangan yang dalam,” tuturnya.
Menurutnya, forest bathing merupakan pelayanan yang cocok dipilih untuk menghilangkan hal-hal yang dapat mengganggu pikiran dan perasaan, hingga mengalami kesulitan tidur atau turunnya produktivitas.
“Bahkan, pasien-pasien kanker juga bisa memanfaatkan layanan ini. Karena salah satu pemicu sel kanker cepat menyebar adalah stres. Jika stres bisa dikendalikan, maka pertumbuhan sel kanker bisa terhambat atau tidak bertambah,” tuturnya.
Forest bathing diyakini menjadi media untuk memperbaiki kualitas kesehatan seseorang hingga 70 persen. Layanan Guci Medical and Wellness Tourism pun disediakan dengan dua pilihan waktu, yakni sehari atau menginap.
Guci Ashafana merupakan salah satu penginapan yang populer di Kawasan Guci. Vila ini memiliki gaya model glamour camping (glamping) dengan bentuk bangunan segitiga yang warna-warni yang menghadirkan suasana ceria berteman dengan alam terbuka.
Uniknya lagi, desain interior yang minimalis dengan nuansa kayu unfinishing menambah kenyamanan di dalam kamar. Apalagi, Guci Ashafana memberikan pengalaman baru menginap dengan mezzanine.
Dari tempat ini pula, wisatawan bisa melihat pemandangan kaki Gunung Slamet yang kelilingi pohon pinus setinggi lebih dari 15 meter.
Fasilitas vila juga didukung dengan gedung pertemuan bernuansa lampu temaram yang hangat, kolam renang, air terjun, dan bumi perkemahan.
Manisan Pepaya yang Khas
Guci memiliki makanan khas, yakni manisan warna-warni yang diolah dari papaya dan cermai. Lalu ada pilihan lain yakni manisan tomat dan sirsat. Manisan ini mudah dijumpai di jalan pintu masuk Pemandian Air Panas Pancuran 13. (put/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo