RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Kawasan wisata di Kecamatan Borobudur selalu menawarkan berbagai destinasi menarik yang sayang untuk dilewatkan. Salah satu tempat yang terus menjadi magnet pengunjung adalah Gubuk Kopi Borobudur, yang terletak hanya sekitar 10 menit dari Candi Borobudur, tepatnya di Dusun Sendaren, Desa Karangrejo.
Di sini, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatan gula jawa tradisional.
Nama "Gubuk Kopi" sendiri berakar dari sejarah tempat ini yang dahulu menjadi ruang santai bagi para pelaku usaha wisata di sekitar Borobudur.
“Sebelum gula jawa, dulunya potensi yang diangkat adalah kopi. Kita sering ngopi di sini, tapi ngopi yang dimaksud adalah “ngobrolin mimpi,” terang Pengelola Gubuk Kopi Borobudur, Agus Prayitno, 39.
Seiring waktu, Gubuk Kopi berkembang menjadi pusat pengrajin gula jawa yang serius meneruskan tradisi sekaligus mengangkat potensi lokal agar tidak hilang tergerus modernisasi.
Suasana di Gubuk Kopi Borobudur begitu khas dengan lingkungan pedesaan yang masih alami, dikelilingi oleh pepohonan hijau yang rindang, memberi rasa nyaman dan kesejukan bagi pengunjung.
Pada saat tiba, setiap pengunjung akan disambut dengan segelas teh hangat yang disajikan bersama gula jawa dalam dua varian, original dan jahe, yang sudah dipotong kecil-kecil. Cara menikmati teh di sini juga unik, pengunjung diajak mengunyah gula jawa terlebih dahulu sebelum menyeruput teh, menciptakan sensasi rasa manis yang pas dan berbeda dari biasanya.
Selain menikmati sajian tradisional tersebut, wisatawan juga dapat melihat langsung proses pembuatan gula jawa tradisional yang berlangsung di dapur khusus. Dapur ini dilengkapi dengan dua tungku berbahan kayu bakar yang digunakan untuk merebus cairan nira kelapa dalam dua kuali besar.
Pengunjung bahkan dapat ikut mencoba mengaduk nira yang masih berwarna putih hingga mengental menjadi gula. Di sekitar dapur juga dipamerkan berbagai alat produksi tradisional seperti bambu penyadap nira, topi caping khas petani, serta cetakan dari batok kelapa yang digunakan untuk membentuk gula jawa.
Menurut Agus, proses pembuatan gula jawa sebenarnya tidak sulit, namun membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.
“Dari pagi para petani harus menyadap 10 pohon kelapa supaya mampu menghasilkan kurang lebih 10 liter cairan nira. Dari cairan tersebut, proses perebusan dan pengentalan dilakukan selama kurang lebih tiga jam, dengan satu jam khusus untuk karamelisasi sehingga menghasilkan sekitar 2 kilogram gula jawa murni,” jelas Agus saat ditemui pada Kamis (6/11/2025).
Gula jawa yang dihasilkan di Gubuk Kopi berasal dari cairan nira kelapa, karena di sekitar kawasan Borobudur tidak tumbuh pohon aren maupun pohon lontar. Kondisi alam daerah Borobudur yang memiliki tanah berjenis vulkanik juga membuat olahan gula jawa di sini memiliki rasa yang gurih.
Dalam sehari, satu perajin biasanya melakukan dua kali proses pembuatan gula sehingga bisa menghasilkan sekitar 4 kilogram gula. Saat ini, sekitar 16 perajin aktif mempertahankan tradisi ini dan mampu memproduksi antara 60 hingga 70 kilogram gula jawa setiap hari.
Pengunjung Gubuk Kopi Borobudur biasanya membludak pada akhir pekan, terutama hari Jumat sampai Minggu, serta saat liburan panjang. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai wisatawan domestik hingga mancanegara, termasuk turis dari Belanda dan Jepang yang membawa produk ini sebagai oleh-oleh khas.
Pengunjung dapat membeli gula merah bubuk dan gula merah batok sebagai oleh-oleh dengan kisaran harga Rp20.000 hingga Rp30.000. Kemasan gula merah batok pun dikemas dengan keranjang bambu buatan warga Desa Karangrejo.
Dukungan dari pemerintah desa, daerah, dan provinsi sangat membantu kelangsungan usaha ini, khususnya dalam hal pemasaran dan pengembangan sumber daya manusia agar kualitas produk dan kapasitas produksi terus meningkat.
“Harapannya usaha ini dapat terus berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Karangrejo. Tak hanya soal penjualan gula, usaha ini juga berdampak positif terhadap perekonomian warga melalui penjualan hasil bumi lain yang turut dipasarkan di Gubuk Kopi,” tutur Agus untuk menutup sesi wawancara. (mg7/mg9)