RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Tak kunjung usai fenomena El Nino bisa memperparah musim kemarau hingga berdampak kekeringan dan mengancam sektor pertanian, sumber daya air, serta kehidupan sosial ekonomi.
Hal ini membuat pemerintah sendiri mengalami keteteran.
Padahal BMKG sudah mengingatkan jauh-jauh hari, tapi antisipasi tersandung efisiensi anggaran.
Akibatnya, banyak daerah kering tidak tertangani optimal.
Hal itu diungkapkan Anggota DPR RI Komisi V Sofwan Dedy Ardyanto saat hadir di Sekolah Lapang Gempa Bumi BMKG di Balai Desa Tampingan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (15/10/2026).
“BMKG sudah mengingatkan jauh-jauh hari akan ada kemarau super panjang, El Nino. Sudah di-follow up PUPR dan Kementan. Tapi tahun ini kemaraunya sangat-sangat panjang dan lebih kering, sehingga kemampuan mengantisipasinya agak keteteran,” kata Sofwan.
Menurutnya, tahun ini doubel masalah: El Nino datang, tapi anggaran untuk antisipasi justru kurang karena efisiensi di semua Kementerian-Lembaga.
“Sekarang kita sudah tahu akan ada kejadian, tapi anggaran untuk mengantisipasinya kurang, ya tetap kurang. Itulah dampak efisiensi,” ujarnya.
Sofwan menyebut Komisi V sudah berulang kali mengingatkan soal bahaya kekeringan, namun eksekusi di lapangan terkendala biaya.
Termasuk jika harus menggunakan hujan buatan.
“Kalau mau melakukan hujan buatan, biayanya mahal sekali. Satu hujan buatan itu infonya Rp3 miliar,” tegasnya.
Saat ini, pemerintah hanya bisa mengirim tangki-tangki air ke wilayah yang kekeringan.
Ia minta masyarakat proaktif berkoordinasi dengan dinas dan stakeholder terkait, untuk bergerak bersama-sama.
“Ya, bukan berarti negara tidak bekerja, wilayah nggak ada air tetap dikirimin tangki air. Tapi, solusinya sekarang masyarakat harus aktif berkoordinasi,” kata Sofwan.
Direktur Seismologi Teknik BMKG Dr Teguh Rahayu membenarkan prediksi kemarau panjang ini akan lebih lama dari biasanya.
“Hampir seluruh Indonesia akan memasuki musim hujan di akhir November. Karena kemaraunya lebih panjang, otomatis musim hujannya juga akan lebih pendek,” jelasnya
Saat ini, BMKG masih fokus penanganan bencana kekeringan yang meluas di Indonesia, namun segera harus bersiap menghadapi bencana basah.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada, dan mengenali bencana di sekitarnya.
“Bencana tidak hanya gempa, banjir, kekeringan, dan longsor. Masyarakat harus aware saat sedang berada di lingkungan mana dan bencana apa yang mengancam,” katanya. (rfk/aro)