RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Krisis air bersih akibat musim kemarau melanda wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.
Hingga saat ini tercatat terdapat empat dusun di Desa Menoreh yang membutuhkan dropping air bersih akibat minimnya sumber air warga.
Kekeringan mulai terjadi sejak 4 Agustus 2026 lalu, yang diawali dari Dusun Demangan dan Dusun Beteng.
Namun memasuki pertengahan Agustus, permintaan dropping air bersih semakin meluas ke dusun lain.
Untuk itu, BPBD bersama PMI, Polsek, Polres, Kodim, Koramil dan relawan berusaha untuk memberikan bantuan dan memastikan masyarakat mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Seksi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kecamatan Salaman Nurmala Hayati menyebutkan, ada empat desa yang sudah menerima dropping air bersih.
Yakni, Desa Kebunrejo, Menoreh, Kalirejo, dan Kalisalak.
“Desa Menoreh terdapat empat dusun yang mengalami kekeringan dan menjadi yang terparah, meskipun secara geografis berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan Desa Ngargoretno dan Paripurno,” kata Nurmala kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Kepala Desa Menoreh Sutejo menjelaskan, di Desa Menoreh terdapat 16 dusun.
Kondisi kekeringan berdampak pada tiga dusun, yaitu Dusun Beteng, Alun-alun, dan Jetis.
Dari ketiga dusun tersebut, krisis air bersih terparah terjadi di Dusun Beteng.
Dusun ini harus mendapatkan bantuan air bersih sekitar 4.000-6.000 liter setiap tiga hari sekali dari BPBD, PMI, dan relawan.
Di Dusun Alun-Alun, warga mengandalkan penampungan air berkapasitas 5.000–6.000 liter yang telah dibangun sejak 2025 lalu, namun baru efektif difungsikan musim kemarau ini.
Timatun, warga Dusun Alun-Alun menyebutkan, koordinasi pengiriman air bersih berjalan cukup responsif.
"Bantuan datangnya tergantung persediaan air bersih. Kadang tiga atau empat hari sekali. Intinya, kalau air di penampungan mau habis, ada koordinator yang mengabari BPBD. Air dari penampungan dipakai bersama untuk mandi, masak, minum dan nyuci. Pengambilannya tertib bergantian tanpa perlu berdesakan," jelas Timatun.
Kekeringan tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga melumpuhkan sektor pertanian.
Basir, 53, petani asal Dusun Beteng mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi lahan pertanian yang makin mengering.
"Sementara ini selama kemarau padi saya diairi pakai pompa air diesel dari sungai. Tapi, karena diambil terus pas musim kemarau, air sungai makin berkurang dan tinggal sedikit. Kebun yang di atas malah lebih parah keringnya," tutur Basir.
Ia menambahkan, tak sedikit petani di wilayahnya yang terpaksa gigit jari akibat gagal panen hingga membiarkan lahannya tidak ditanami.
Untuk kebutuhan harian, warga memanfaatkan air dari penampungan bantuan BPBD maupun sumur gali yang tersisa.
"Punya saya sumurnya Alhamdulillah masih ada airnya tapi sedikit, jadi diirit-irit. Mau menambah kedalaman sumur sudah sulit karena kedalamannya sudah 12 meter," imbuhnya.
Meskipun dilanda kekeringan, namun kondisi kesehatan masyarakat masih terpantau aman,
“Untuk kesehatan setahu saya masih aman, karena kebanyakan bantuan air itu untuk cuci dan mandi dan untuk konsumsi kebanyakan pakai air galon,”tambah Nurmala.
Tercatat kekeringan terparah di Kecamatan Salaman dialami pada 2023, yang melanda lima desa sekaligus hingga memicu kebakaran lahan.
Agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi pemerintah desa mengimbau agar mulai menanam pohon yang dapat menyerap air dan melestarikan alam sekitar.
“Harapan kami untuk masyarakat dan pemerintah itu sama dengan Desa Ngargoretno, jadi Desa Ngargoretno itu ada program untuk menanam tanaman pohon yang bisa menyerap air, seperti pohon aren dalan lain-lain. Itu di Desa Ngargoretno misalnya masyarakat menebang pohon tersebut ada sanksinya,”kata Nurmala (mg6/mg9/aro)
Editor : H. Arif Riyanto