RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Musim kemarau panjang menyebabkan debit air di sejumlah embung di Kabupaten Magelang menurun sejak tiga bulan terakhir.
Bahkan, cadangan air menyusut hingga tinggal 30 persen.
Itu terjadi di Embung Tempak, Desa Tempak, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang.
Embung ini 80 persen bersumber dari Sungai Soti dan 20 persen dari mata air embung itu sendiri.
“Tapi, sekarang volume air tersisa 30 persen. Hal ini menyebabkan embung tidak dapat mengairi lahan pertanian warga,” kata Ketua BUMDes Tempak Sofyan kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (8/9/2026).
Karena tak mendapat aliran air, para petani setempat pun beralih ke tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, hingga membiarkan lahannya kering.
“Kami sudah berusaha memperbaiki bendungan yang menjadi sumber aliran air Embung Tempak, tetapi masih menunggu perbaikan dari Pemerintah Pusat,” ujarnya.
Dikatakan, sebagai pengelola, pihaknya juga berkolaborasi dengan petani dan masyarakat setempat.
“Kalo memang suplai airnya menurun, kami mengupayakan dengan merawat bendungan itu, yang mungkin sekarang rusak, ya bisa sedikit diperbaiki, sambil menunggu langkah dari pemerintah untuk memperbaiki,” tambahnya.
Sementara itu, Embung Gumelem di Dese Gumelem, Kecamatan Pakis, meski terjadi penurunan debit air, embung tersebut masih dapat memenuhi kebutuhan warga dan sektor pertanian.
Perangkat Desa Gumelem Sutrisno mengatakan, embung mendapat pasokan dari empat sumber mata air yang hingga kini masih mengalir, meski debit airnya berkurang selama musim kemarau.
Air embung ini dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga, khususnya warga Dusun Jetis, setelah sejumlah sumber air lain di wilayah tersebut mengering.
Air dari embung ini dialirkan menuju dusun menggunakan sistem grafitasi melalui pipa paralon.
“Tahun ini penyusutan air hampir satu meter lebih, padahal tahun lalu nggak sampai segitu. Kemarau sudah berlangsung berbulan-bulan dan pertanian juga membutuhkan aliran air,” ujar Sutriano
Dari tujuh dusun di Desa Gumelem, hanya tiga dusun yang tidak bisa memanfaatkan air dari embung ini lantaran lokasinya lebih tinggi.
“Warga di wilayah tersebut mengandalkan Pamsimas maupun Pamdes untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya. (mg6/mg9/aro)
Editor : H. Arif Riyanto