RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Aksi damai para peternak ayam petelur Magelang, Senin (10/8/2026) lalu, belum membuat kondisi usaha peternak ayam petelur membaik.
Harga pakan masih tinggi, sementara harga telur di tingkat peternak belum mengalami perubahan.
Kondisi tersebut juga dirasakan peternak ayam petelur mandiri di Kedungowo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang.
Dengan sekitar 3.000 ekor ayam yang dipelihara, kebutuhan pakan mencapai sekitar 450 kilogram setiap harinya.
Pemilik N-3 Farm Budi mengatakan, harga pakan saat ini berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.
Padahal sebelumnya harga pakan sebelumnya sekitar Rp6.500 per kilogram.
Kenaikan tersebut, menurutnya sudah dirasakan sejak beberapa bulan terakhir.
Salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga pakan adalah menguatnya nilai Dolar yang kemudian berdampak terhadap harga bahan baku pakan.
“Kalau sekarang harga pakan sekitar Rp8.000 per kilogram, sebelumnya sekitar Rp6.500. Naiknya sudah beberapa bulan ini. Karena Dolar naik, pakan ikut naik. Udah lima kali naiknya, padahal kata Pak Presiden Dolar gak ngaruh sama orang kampung, ternyata malah ngaruh sekali” ujarnya.
Dengan kebutuhan sekitar 450 kilogram pakan per hari, biaya pakan yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp3,6 juta setiap harinya.
Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak saat ini sekitar Rp20.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat margin usaha semakin tertekan.
Bahkan, menurutnya, dengan perhitungan biaya produksi yang ada, peternak sudah berada dalam kondisi merugi.
Persoalannya, peternak tidak bisa begitu saja mengurangi pemberian pakan untuk menekan biaya produksi.
Sebab, pengurangan pakan akan berdampak langsung terhadap produksi telur.
“Ayam itu tidak bisa bohong. Kalau pakannya dikurangi, produksi telurnya juga akan menurun. Usaha dari kita cuma bisa berdoa, dan pasrah, sama Illahi,” katanya.
Menurutnya, tidak ada alternatif pakan yang bisa begitu saja digunakan untuk menggantikan pakan yang biasanya digunakan bermerek Cargill yang biasa diberikan ke ayam.
Pergantian pakan secara mendadak justru dapat membuat kondisi ayam menurum dan berdampak terhadap produksi telur.
“Kalau untuk ayam petelur kami gak berani coba-coba, soalnya kalau pakannya diganti, ayam bisa langsung drop. Jadi, mau tidak mau ya tetap harus pakai pakan yang biasa,” ungkapanya.
Meski biaya produksi tinggi, produksi telur di peternakannya sejauh ini masih relatif stabil.
Penurunan produksi biasanya terjadi ketika ayam mengalami gangguan kesehatan.
Namun, kondisi tersebut segera ditangani agar tidak berdampak lebih jauh terhadap produksi.
Ayam yang mati juga tetap menjadi risiko dalam usaha peternakan.
Namun, kematian ayam tersebut tidak terjadi dalam jumlah besar dan sangat bergantung pada kondisi serta perawatan ayam.
N-3 Farm telah beroperasi sejak 2017.
Selama hampir satu dekade menjalankan usaha, Budi mengaku tidak ingin berhenti hanya karena kondisi harga pakan dan telur saat ini sedang sulit.
Justru, ia memilih tetap bertahan dan berencana mengembangkan jumlah ternaknya.
“Hidup cuma sekali jadi jangan gampang nyerah, sekarang lagi mode bertahan. Sekarang malah pengin nambah saya,” tuturnya.
Budi sendiri merupakan bagian dari Paguyuban Peternak Ayam Petelur Magelang (P3M).
Ia juga ikut dalam aksi damai peternak pada Senin (10/8/2026) lalu, termasuk kegiatan pembagian 1.300 ekor ayam kepada masyarakat.
Namun, setelah aksi tersebut belum terlihat perubahan harga yang dirasakan langsung oleh peternak.
Harga pakan masih berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.
Sementara harga telur juga masih sekitar Rp20.000 per kilogram.
Bagi peternak mandiri, kondisi tersebut membuat usaha peternakan harus terus berjalan di tengah tekanan biaya produksi.
Setiap hari, pakan tetap harus diberikan dalam jumlah yang sama agar produksi telur tidak ikut turun.
Dari kandang berisi sekitar 3.000 ekor tersebut, produksi telur masih berjalan.
Dalam sehari, hasil produksi telur tersebut mencapai sekitar lima peti, dengan masing-masing peti berisi sekitar 10 kilogram telur
Bagi Budi, bertahan dalam kondisi harga yang belum menguntungkan bukan berarti tidak mengalami tekanan.
Namun, menghentikan produksi juga bukan pilihan yang tepat.
“Untuk pemerintah harga telur Rp18.000 gak papa, Cuma untuk pakan harganya juga disubsidi biar harganya murah kayak dulu Rp4.500 per kilogramnya itu solusi paling tepat untuk saya. Kalau cuma jagung subsidi itu nggak begitu berpengaruh, bukan solusi yang tepat,” tandasnya. (mg3/mg10/aro)
Editor : H. Arif Riyanto