Peternak Ayam Petelur di Windusari, Kabupaten Magelang Keluhkan Kenaikan Harga Pakan

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:43 WIB
Pengelola kandang ayam petelur BUMDes Balesari Windusari, Safudin, saat memberi pakan ayam petelur, Selasa (11/8/2026). (DITA NURUL AZIZAH/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Pengelola kandang ayam petelur BUMDes Balesari Windusari, Safudin, saat memberi pakan ayam petelur, Selasa (11/8/2026). (DITA NURUL AZIZAH/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Aksi damai peternak ayam petelur Magelang dan sejumlah daerah, Senin (10/8/2026) lalu, tidak lepas dari persoalan biaya produksi yang terus membengkak.

Harga pakan yang tinggi menjadi salah satu keluhan, sementara harga telur justru mengalami penurunan. 

Kondisi serupa juga dirasakan pengelola peternakan ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Dusun Malanggaten, Desa Balesari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. 

Meski tidak ikut dalam aksi, Safudin yang sudah sekitar lima bulan mengelola peternakan tersebut mengaku ikut merasakan dampaknya. 

Ia mengaku, mengelola kendang dengan sekitar 500 ekor ayam.

Untuk kebutuhan pakan, setiap harinya bisa menghabiskan sekitar 50 kilogram. 

Dengan harga pakan saat ini mencapai Rp7.900 per kilogram, pengelola harus menyiapkan sekitar Rp395 ribu untuk kebutuhan pakan setiap harinya. 

Sementara itu, produksi telur sejak mulai berjalan pada Februari lalu masih belum stabil. Hasil produksinya masih naik turun, rata-rata sekitar 17-20 kilogram pada masa awal. Jika produksi sudah maksimal, hasilnya bisa mencapai sekitar 25 kilogram per hari.

Sekali panen, telur yang dihasilkan bisa mencapai dua peti. Satu peti berisi sekitar 10 kilogram telur.

Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp24.000 per kilogram atau sekitar Rp230.000 ribu untuk satu peti. 

“Harga segitu termasuk harga kandang, maksudnya harganya masih di bawah pasaran. Kita jual telur walaupun harganya lagi turun, tapi harga pakannya malah semakin melonjak naik. Ya itu kadang dua bulan atau tiga bulan, sekarang ini malah sering terpaksa menambah dengan uang pribadi,” keluhnya.

Ia mengakui, hasil jual telur belum nutup buat beli pakannya. Ia terpaksa nambah pakai uang sendiri hingga 20 persen dari harga pakannya.

“Dalam kondisi sekarang, kita belum bisa berharap dapet untung. Yang penting kita bisa beli pakan dulu. Untuk berpikir ngambil untung belum bisa,” tambahnya.

Bagi Safudin, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri.

Karena peternakan BUMDes tersebut baru berjalan sekitar lima bulan.

Ia juga masih mempelajari seluk-beluk pengelolaan ayam petelur sekaligus melihat perkembangan harga telur dan pakan. 

Meski tidak turun langsung dalam aksi, ia memahami keresahan yang disampaikan para peternak.

Sebab, persoalan harga pakan dan telur pada akhirnya ikut menentukan apakah usaha peternakan bisa terus berjalan dengan baik atau tidak.  

“Harapan ke depannya sih semoga harga mulai stabil. Harga pakannya bisa mulai normal lagi gak naik kayak sekarang ini. Jadi, misalnya nanti jual telur ada untungnya sedikit. Karena selain beli pakan kan juga butuh dana untuk perbaikan kerusakan kandang,” ujarnya. (mardiana putri k/dita nurul a/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
ayam petelur biaya produksi harga pakan Windusari Kabupaten Magelang