Pengabdian Prodi Kebidanan di Desa Bojong : SI TUNIK Ajak Remaja Tunda Pernikahan, Siapkan Generasi Sehat dan Berkualitas

Lis Retno Wibowo • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 14:41 WIB
Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama Nasyiatul Aisyiyah di Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. (Dok Tim Pengabdian)
Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama Nasyiatul Aisyiyah di Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. (Dok Tim Pengabdian)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Menikah bukan sekadar soal usia. Ada kesiapan fisik, mental, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang perlu dipersiapkan sebelum seseorang membangun rumah tangga.

Karena itu, masa remaja perlu dimanfaatkan untuk belajar, mengembangkan potensi, dan menyiapkan masa depan.

Pesan tersebut diwujudkan Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama Nasyiatul Aisyiyah di Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Menggunakan inovasi hasil peneletian berupa Video Siap Tunda Nikah (SI TUNIK), kegiatan ini mengajak remaja memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dan menunda perkawinan hingga mencapai usia serta kesiapan yang lebih matang.

Pengabdian masyarakat “Implementasi Hasil Penelitian Video Siap Tunda Nikah (SI TUNIK) dalam Upaya Pendewasaan Usia Perkawinan Demi Generasi Sehat Berkualitas” tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat edukasi kesehatan bagi remaja.

Baca Juga: Tim Pengabdian Agroteknologi Untidar Edukasi Pemanfaatan Pekarangan melalui Hidroponik Sederhana di Desa Kwadungan Gunung Temanggung

Pengabdian diketuai oleh Siti Rofi’ah dengan anggota Tuti Sukini, Ayuningtiyas, Yasmin Aula HA, Hikmah Fajar R, Chintya Ramadhani A, Nailah Alfiyyatul I, Naurah Shafa S.

Desa Bojong merupakan salah satu desa binaan Prodi Kebidanan Magelang yang sejak 2020 dikembangkan sebagai “Desa Sehat Remaja”.

Kolaborasi dengan Nasyiatul Aisyiyah menjadi bagian penting dalam memperkuat edukasi dan pemberdayaan remaja agar lebih siap menjaga kesehatan dan merencanakan masa depan.

Perkawinan Anak Masih Jadi Perhatian

Persoalan perkawinan anak masih menjadi perhatian di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Magelang.

Persentase kejadian perkawinan anak di Kabupaten Magelang tahun 2025 sebanyak 2.93 persen.

Di Kecamatan Mungkid, tahun 2025 tercatat empat perkawinan anak, salah satunya berasal dari Desa Bojong.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penguatan edukasi kepada remaja agar mereka memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mengambil keputusan penting dalam kehidupan.

Perkawinan pada usia anak bukan hanya berkaitan dengan usia. Ada banyak konsekuensi yang dapat muncul ketika seseorang memasuki kehidupan perkawinan tanpa kesiapan yang memadai.

Mulai dari persoalan kesehatan reproduksi, pendidikan, psikologis, hingga kondisi sosial dan ekonomi.

Ketidaksiapan menghadapi kehidupan rumah tangga juga dapat meningkatkan risiko munculnya konflik dan perceraian.

Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sejak remaja. Edukasi pun harus disampaikan dengan cara yang dekat dengan dunia mereka.

Edukasi Lewat Video

Di tengah kebiasaan remaja mengakses informasi melalui perangkat digital, video menjadi salah satu media yang dipilih dalam program ini.

SI TUNIK merupakan video hasil penelitian yang kemudian diterapkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Video tersebut digunakan sebagai media edukasi untuk membantu meningkatkan pemahaman remaja mengenai pendewasaan usia perkawinan.

Video dipadukan dengan pendekatan pendidikan sebaya. Artinya, remaja yang telah mendapatkan pembekalan diharapkan mampu menyampaikan kembali informasi kepada teman-temannya.

Cara ini membuat proses edukasi tidak hanya berlangsung satu arah. Remaja dapat menonton, berdiskusi, bertanya, sekaligus berbagi pengalaman dengan teman sebaya.

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu remaja menerima informasi dengan lebih dekat dan mudah dipahami.

Bekali 30 Kader Remaja

Sebanyak 30 anggota Nasyiatul Aisyiah Desa Bojong menjadi sasaran kegiatan.

Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pendewasaan usia perkawinan, aturan mengenai usia perkawinan, faktor yang memengaruhi perkawinan anak, dampak perkawinan anak, serta berbagai upaya pencegahannya.

Kegiatan berlangsung dalam empat kali pertemuan selama bulan Agustus 2026.

Pertemuan pertama diawali dengan pre-test. Setelah itu, kader mendapatkan materi dan berdiskusi mengenai peraturan serta faktor yang memengaruhi perkawinan anak.

Pada pertemuan kedua, pembahasan diarahkan pada dampak perkawinan anak.

Pertemuan berikutnya, kader akan mendapatkan materi terkait langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah perkawinan anak.

Pertemuan terakhir digunakan untuk evaluasi tindak lanjut dan post-test.

Kader juga mendapatkan umpan balik mengenai proses kegiatan yang telah dilakukan.

Dengan pola tersebut, kader tidak hanya menjadi peserta kegiatan. Mereka juga dipersiapkan untuk menjadi penggerak edukasi bagi remaja lain di lingkungannya.

Tunda Nikah, Bukan Tunda Masa Depan

Ada pesan penting yang ingin dibangun melalui SI TUNIK. Menunda pernikahan bukan berarti menunda masa depan.

Justru masa remaja dapat dimanfaatkan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, mengejar cita-cita, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.

Masa remaja merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.

Pada masa ini, rasa ingin tahu remaja juga tinggi. Mereka senang mencoba berbagai hal baru dan menghadapi berbagai tantangan.

Namun, keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang dapat membawa konsekuensi jangka pendek maupun jangka panjang.

Karena itu, remaja membutuhkan lingkungan yang mendukung serta informasi yang tepat.

Bukan untuk menghakimi atau menakut-nakuti, tetapi untuk membantu mereka memahami pilihan dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Program SI TUNIK juga mendorong remaja memanfaatkan masa mudanya untuk melakukan berbagai kegiatan produktif.

Dengan begitu, waktu remaja dapat digunakan untuk mengembangkan potensi diri sekaligus mempersiapkan masa depan.

Dari Kampus untuk Masyarakat

Kegiatan SI TUNIK menjadi contoh bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi dapat dibawa lebih dekat kepada masyarakat.

Hasil penelitian tidak berhenti dalam bentuk laporan atau publikasi ilmiah.

Inovasi tersebut diterapkan menjadi media edukasi yang dapat digunakan dalam kegiatan pemberdayaan remaja di masyarakat.

Desa Bojong sendiri bukan wilayah yang baru mendapatkan pendampingan.

Sebelumnya, Prodi Kebidanan Magelang telah melaksanakan berbagai kegiatan di desa tersebut, mulai dari pengembangan Posyandu Remaja hingga berbagai program yang berkaitan dengan kesehatan dan pemberdayaan generasi muda.

Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test serta pengamatan kegiatan penyampaian informasi dengan sebaya menggunakan media SI TUNIK.

Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat pengetahuan, sikap, dan ketercapaian penurunan angka perkawinan anak di Desa Bojong kecamatan Mungkid.

Melalui SI TUNIK, pesan sederhana ingin terus digaungkan kepada generasi muda: tidak perlu terburu-buru menikah.

Persiapkan diri, raih cita-cita, jaga kesehatan, dan bangun masa depan.

Sebab, generasi sehat dan berkualitas tidak lahir secara instan. Generasi tersebut perlu dipersiapkan sejak remaja, melalui pengetahuan yang benar, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

Dari Desa Bojong, SI TUNIK menjadi salah satu langkah kecil untuk membangun kesadaran tersebut. Tunda nikah, siapkan masa depan, dan wujudkan generasi sehat berkualitas. (rls/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
Si Tunik video siap tunda nikah pengabdian masyarakat Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang