Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Tekan Penyebaran TBC, PDPI Jateng Berikan Penyuluhan dan Lakukan Skrining Sejak Awal di Candi Borobudur Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Selasa, 26 Mei 2026 | 11:09 WIB
Skrining penyakit paru-paru di Kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Gratis yang digelar Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Sabtu-Minggu (23-24/5/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Skrining penyakit paru-paru di Kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Gratis yang digelar Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Sabtu-Minggu (23-24/5/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Mungkid-- Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Bid Dokkes Polda Jawa Tengah terus berupaya untuk mencegah penyebaran Tuberkulosis atau TBC  di Jawa Tengah (Jateng).

Pasalnya, penderita TBC di Jateng ini merupakan yang tertinggi nomor tiga di Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian khusus, mengingat penyakit TBC ini juga masuk dalam kategori penyakit yang sangat menular.

Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Pol drg Agung Hadi Wijanarko menyampaikan, Jawa Tengah saat ini menduduki peringkat tiga penderita TBC seluruh Indonesia, di bawah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Dengan angka penderita TBC di Jateng saat ini sekitar 105 ribu.

“Dan baru terdeteksi hingga Mei minggu kedua baru terdeteksi sekitar 28 ribu. Sehingga masih banyak yang belum terdeteksi,” ujarnya pada acara Bakti Sosial Kesehatan Gratis dalam rangka Hari Tri Suci Waisak 2570 BE/ 2026.

Kegiatan Bakti Sosial Kesehatan Gratis dilaksanakan dua hari, Sabtu (23/5/2026) dan Minggu (24/5/2026).

Di momen ini, kata Agung, pihaknya berupaya untuk melakukan skrining dan mencegah penyebaran TBC. 

Ketua Korwil Kedu PDPI Jateng dr Rudi Satriawan menyampaikan, ada sejumlah faktor yang menjadi kendala dalam penanganan penyakit TBC.

Seperti, kesadaran diri masyarakat itu sendiri. 

“Misalnya, sudah ada gejala penyakit TBC seperti batuk yang tidak kunjung sembuh hampir dua minggu lebih dan pada malam hari berkeringat. Namun, masyarakat tidak mencoba memeriksa apakah benar terkena TBC atau tidak, serta untuk menjalani pengobatan lebih lanjut,” ucapnya.

Dokter Rudi mengatakan, dalam acara ini, pihaknya hadir bersama dengan dokter paru-paru lainnya untuk membantu memberikan penyuluhan dan pengobatan kepada masyarakat.

Ia menjelaskan, untuk gejalanya itu, seperti yang sudah disampaikan ada batuk yang tidak kunjung sembuh hampir dua minggu. 

“Kemudian demam atau panas (kalau orang Jawa bilang sumer-sumer), keringat malam, penurunan berat badan. Dan itu sudah masuk dan dicurigai TBC, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti ronsen paru-paru dan pengecekan dahak,” jelasnya.

Selain itu, penyebab lainnya itu saat pemeriksaan dahak.

Ketika sudah dinyatakan negatif, masyarakat ragu-ragu untuk pengobatan.

Namun, meskipun pengecekan dahak itu negatif, belum tentu orang tersebut bebas TBC.

“Kita juga perlu mengecek hasil ronsen paru-parunya. Jika positif, dan hasil dahaknya negatif, itu tetap TBC tapi potensi penularannya lebih rendah,” ujarnya.

Sehingga di momen ini, pihaknya hadir untuk memberikan penyuluhan dan skrining soal penyakit TBC ini.

Baik memberikan pemahaman soal gejala TBC itu apa saja, kemudian pengobatannya bagaimana, pencegahannya seperti apa.

“Diharapkan dengan pengetahuan ini, masyarakat bisa paham dan tahu tentang pencegahan dan menghindari penyakit TBC, serta cara mengobatinya bagaimana, “ harapnya. (rfk/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#skrining #Pengobatan Alami #penyuluhan #borobudur #tbc