Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Drama Pohon Randu Alas di Desa Tuksongo Borobudur Magelang Menuju Akhir, Pohon Tersebut Akhirnya Ditebang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Selasa, 3 Februari 2026 | 15:03 WIB

Pohon Randu Alas yang diperkirakan sudah berusia kurang lebih 250 tahun yang berada di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang akhirnya ditebang.
Pohon Randu Alas yang diperkirakan sudah berusia kurang lebih 250 tahun yang berada di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang akhirnya ditebang.

RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Pohon Randu Alas yang diperkirakan sudah berusia kurang lebih 250 tahun yang berada di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang akhirnya ditebang. 

Pemotongan Pohon Randu Alas ini dilakukan mulai Senin (2/2/2026).

Pohon Randu Alas tersebut merupakan salah satu ikon pariwisata di Desa Tuksongo.

Berada di pinggir jalan utama, proses pemotongan ini tampak dilakukan secara hati-hati dan bertahap. 

Melibatkan sejumlah tim gabungan hingga menerjunkan alat berat, proses pemotongan pohon yang sudah berusia ratusan tahun ini dilakukan secara bertahap, dengan melakukan pemotongan setiap cabang.

Meskipun terbilang lama, namun langkah ini dilakukan juga melihat faktor keselamatan.

Tidak hanya proses pemotongan yang nantinya akan memakan waktu.

Drama pemotongan Pohon Randu Alas di Desa Tuksongo ini juga cukup panjang dan memakan waktu.

Rencana awal, penebangan pohon dilakukan Senin (12/1/2026) lalu.

Namun langkah tersebut dibatalkan atas arahan dan perintah Bupati Magelang Grengseng Pamuji. 

Hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan permasalahan.

Sehingga Grengseng mengusulkan untuk menunda dan memanggil sejumlah ahli yang paham akan tumbuhan untuk menilai apakah kondisi Pohon Randu Alas yang merupakan ikon pariwisata di Desa Tuksongo ini benar-benar sudah mati.

Selang beberapa hari saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Magelang, Grengseng mengatakan, bentuk penyelamatan Pohon Randu Alas ini tidak bisa diputuskan atau ditentukan tanpa kajian. Apalagi pohon ini merupakan salah satu ikon wisata di Desa Tuksongo, Borobudur. 

“Sehingga hal ini perlu adanya kajian dari para ahli, sehingga nanti akan muncul hasil kajiannya,” jelasnya.

Dan pada Sabtu (24/1/2026) lalu, muncul hasil kajian dan evaluasi kesehatan kondisi Pohon Randu Alas tersebut.

Berdasarkan hasil evaluasi kesehatan dan risiko pohon oleh Tim Evaluasi Kesehatan dan Risiko Pohon Fakultas Kehutanan UGM, lebih dari 90 persen bagian pohon telah mengalami kerusakan parah dan dalam kondisi mati.

Ketua tim kajian Prof. Dr. Ir. Sri Rahayu menyebutkan, secara visual pohon menunjukkan tanda-tanda kerusakan berat mulai dari bagian akar, banir, batang, hingga tajuk.

Di tajuk pohon ini, didominasi cabang dan ranting mati, rapuh, serta berpotensi luruh sewaktu-waktu.

“Dengan kondisi tersebut, Pohon Randu Alas memiliki potensi bahaya yang sangat tinggi terhadap keselamatan manusia, bangunan permukiman di sekitarnya, serta kendaraan yang melintas,” demikian tertulis dalam laporan kajian.

Dalam matriks penilaian risiko, kegagalan struktur pohon baik pada bagian akar, batang, maupun tajuk dinilai memiliki kemungkinan dampak yang parah dan sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, secara keseluruhan peringkat risiko Pohon Randu Alas ditetapkan pada kategori ekstrem.

Kajian tersebut juga mengungkap bahwa kerusakan pohon dipengaruhi oleh serangan organisme pengganggu tanaman, khususnya penggerek batang Batocera hector.

Serangan hama ini diduga memicu masuknya patogen yang mempercepat proses kematian jaringan kayu, sehingga pohon tampak meranggas dan rapuh.

Dari hasil kajian tersebut, sejumlah opsi juga sudah disampaikan. Seperti, pemotongan seluruhnya, hingga pemotongan tapi tetap menyisakan batang untuk monumen.

Kemudian, pada Senin (26/1/2026) kemarin, Pemerintah Kabupaten Magelang di Balkondes Tuksongo memberikan wadah musyawarah terkait penanganan Pohon Randu Alas tersebut.

Sehingga diputuskan untuk Pohon Randu Alas ini akan dipotong sebagian dan sebagiannya dijadikan monumen.

Selang beberapa hari atau tepatnya pada 28 Januari, Desa Tuksongo menyampaikan surat pemberitahuan perihal rencana penebangan Pohon Randu Alas yang akan dilaksanakan pada Senin (2/2/2026).

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Magelang di lokasi, proses penebangan pohon ini juga menjadi momen terakhir warga setempat menyaksikan ikon pariwisatanya tinggal sebuah kenangan.

Tampak, masyarakat hadir dan melihat langsung proses pemotongan berlangsung. Apalagi ditambah dengan cuaca pada pagi itu cukup cerah dan sedikit terik.

Tidak hanya masyarakat setempat yang hadir.

Sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Magelang seperti Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang Mulyanto, serta Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Magelang Romza Ernawan.

Mulyanto yang juga hadir pada rapat koordinasi di Balkondes Tuksongo mengatakan, dari kajian akademis oleh tim Fakultas Kehutanan UGM itu, didapatkan bahwa kondisi Pohon Randu Alas ini sudah mati.

Sehingga dari kajian akademis itu, menjadi dasar Desa Tuksongo untuk mengambil keputusan.

“Mengingat kondisi pohon ini sendiri, dari hasil kajian sudah sekitar 90 persen mati. Sehingga jika ini dibiarkan, berpotensi tumbang dan berbahaya bagi kondisi masyarakat sekitar,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Senin (2/2/2026).

Dari hasil rapat koordinasi beberapa waktu lalu di Balkondes Tuksongo yang juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, Mulyanto menjelaskan Kepala Desa Tuksongo mengambil keputusan untuk tetap melakukan penebangan.

Namun dengan tetap menyisakan Pohon Randu Alas tersebut.

“Ini nanti akan disisakan pokok pohon yang besar sekitar beberapa meter. Sehingga ikon pariwisatanya di sini tidak hilang,” jelasnya.

Sementara itu, Kades Tuksongo M Abdul Karim mengatakan, untuk proses pemotongan ini dimulai sekitar pukul 07.00.

Dan diawali dengan selamatan terlebih dahulu dengan 9 ingkung dan 9 jenang merah putih.

Ia sendiri mengaku, tidak ada yang tahu sejak kapan Pohon Randu Alas ini tumbuh hingga menjulang tinggi seperti sekarang.

Abdul Karim juga mengaku, sejak zaman ayahnya dulu juga pernah tanya ke kakek soal pohon tersebut, namun kakek juga tidak tahu.

“Jadi di era mbah saya, ditanya bapak saya itu posisi pohon sudah besar seperti saat ini,” ujarnya.

Karim mengaku, kalau dari penuturan orang-orang dulu, usianya kisaran 250-an tahun. Dan untuk tingginya itu, sekitar 30 meter lebih.

“Nanti rencana kita sisakan untuk menjadi ikon. Kurang lebih dari bawah delapan meter,” jelasnya.

Saat ditanya apakah desa berencana menanam Pohon Randu Alas yang baru, Karim memastikan akan menanam.

Apalagi Pohon Randu Alas ini sebelum mati juga sudah ada anaknya.

“Rencana anaknya itu akan kita tanam di sebelah timur lapangan Desa Tuksongo,” ujarnya.

Karim menjelaskan, sebelum mengambil keputusan untuk ditebang, pihaknya sudah mencoba berkoordinasi dengan DLH untuk mengobati pohon tersebut.

Namun, usahanya tersebut tidak membuahkan hasil.

“Sehingga kami terpaksa mengambil langkah untuk pemotongan. Apalagi hal ini juga diperkuat hasil kajian dari ahli Fakultas Kehutanan UGM,” katanya. (rfk/aro)

 
 
Editor : H. Arif Riyanto
#dipotong #Tuksongo #borobudur #ditebang #Kabupaten Magelang #Pohon Randu Alas #Bupati Magelang Grengseng Pamuji