RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Magelang terus digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Magelang.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023, prevalensi stunting di Kabupaten Magelang sebesar 22,8 persen dan berhasil turun menjadi 19,3 persen pada 2024.
Sementara melalui data elektronik pencatatan gizi berbasis masyarakat, angka tersebut bahkan tercatat 14,58 persen pada 2024.
Meski demikian, tantangan masih tinggi.
Dari total 72.603 balita, tercatat 52.460 anak mengalami masalah gizi, di antaranya 10.816 balita stunting, 33.402 berat badan rendah, 5.850 underweight, dan 77 balita gizi buruk.
"Ini menunjukkan intervensi harus lebih terarah dan menyentuh akar masalah, bukan hanya gejala," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dr. Oktora Kunto Edhy.
Menurutnya, penyebab stunting bersifat multifaktorial, meliputi asupan gizi yang tidak cukup selama 1.000 hari pertama kehidupan, pola asuh yang kurang tepat, akses sanitasi yang buruk, serta pelayanan kesehatan yang belum optimal.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Magelang Nanda Cahyadi Pribadi menegaskan, komitmen dari Pemkab Magelang untuk menekan angka stunting di wilayah Kabupaten Magelang.
Menurutnya, stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia.
Penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan.
Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor mulai dari pendidikan, sosial, pertanian, hingga lembaga keagamaan agar penanganannya bisa menyentuh akar permasalahan.
“Dampaknya tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan, daya saing, dan produktivitas generasi masa depan,” ujarnya.
Nanda menambahkan, penanganan stunting bukan hanya urusan sektor kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama lintas sektor, sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
Di tingkat daerah, Pemkab Magelang telah mengintegrasikan program percepatan gizi dalam Sapta Cipta Pembangunan, khususnya pada pilar kedua Sehat Wargane, yang fokus meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta gizi balita.
Namun, tantangan masih besar.
Berdasarkan data per Desember 2024, dari total 52.640 balita bermasalah gizi, baru 10.609 balita atau sekitar 20 persen yang mendapatkan intervensi.
"Ini menjadi alarm bagi kita semua agar bekerja lebih masif, terarah, dan kolaboratif," lanjut Nanda.
Menurutnya, percepatan penurunan stunting memerlukan kerja bersama. Pemerintah daerah, Baznas, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat harus saling menopang.
Ketua Baznas Kabupaten Magelang Kholil As'adi mengatakan, zakat memiliki potensi besar dalam membangun kesejahteraan umat dan mempercepat penurunan angka stunting.
Baznas Kabupaten Magelang mengambil peran penting melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah untuk menjangkau keluarga rentan. Program bantuan gizi, pembangunan sanitasi, hingga pemberdayaan ekonomi mustahik menjadi wujud nyata kontribusi lembaga ini.
"Data menunjukkan masih ada sekitar 10.490 anak di Kabupaten Magelang yang mengalami hambatan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Ini tanggung jawab kita semua," ujar Kholil. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto