RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta memberdayakan kelompok wanita tani (KWT), Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sambak mengikuti pelatihan diversifikasi produk pertanian berbahan dasar singkong.
Kegiatan ini merupakan inisiasi dari tim dosen dan mahasiswa dari Universitas Tidar (Untidar) Magelang sebagai bagian dari program pengabdian unggulan universitas.
Tim dosen dan mahasiswa terdiri atas Dinar Melani Hutajulu, S.Pd., M.Si., Muhammad Iqbal Fanani Gunawan, S.TP., M.Si., Jihad Lukis Panjawa, S.E., M.E., Fera Febriana Sritutur, S.E., M.S.E., Putri Nisrina Damayanti, dan Aini Fadhilah Dzakirah.
Pelatihan diversifikasi produk pertanian berbahan dasar singkong diselenggarakan pada hari Rabu, 17 Juli 2025 pukul 09.30 WIB di Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang.
Pelatihan diikuti anggota KWT Desa Sambak yang merupakan ibu rumah tangga, sebanyak 20 orang. Dalam pelatihan tersebut, dosen dan mahasiswa langsung memberikan pendampingan dalam pengolahan produk pertanian kepada anggota KWT.
Tujuan pelatihan untuk menyalurkan keilmuan di bidang ilmu ekonomi dan pangan dalam mendorong kemajuan ekonomi di dalam masyarakat, khususnya KWT Desa Sambak. Anggota KWT diajarkan cara mengolah singkong menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Seperti brownies kukus, brownies oven (panggang), dan soft cookies, dengan mengedepankan keamanan dan fungsional pangan.
Kegiatan dibuka oleh Yustirania Septiani, S.Pd., M.Sc., sebagai narasumber diversifikasi produk olahan. Pada kesempatan tersebut ia menyampaikan pentingnya pengembangan produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal.
Terutama singkong yang selama ini dikenal sebagai bahan makanan pokok dapat diolah menjadi produk olahan bernilai jual tinggi. Selain itu, pengembangan produk olahan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa untuk meningkatkan pendapatan.
Pelatihan dibagi menjadi dua kelompok untuk mempraktikkan pembuatan tiga produk olahan berbasis singkong. Yaitu brownies oven, brownies kukus, dan soft cookies. Kelompok pertama membuat brownies oven dan soft cookies, sementara kelompok kedua membuat brownies kukus.
Proses pelatihan didampingi para mahasiswa, yaitu Putri Nisrina Damayanti, Patricia Meita Vara Angelina, Serly Dita Rizkyna Sari, Aini Fadhilah Dzakirah. Mereka mendampingi peserta secara bertahap, mulai dari memahami resep dan teknik pembuatan, pengolahan adonan singkong, pengukusan, pemanggangan, hingga penyajian produk akhir.
Antusiasme anggota KWT Desa Sambak sangat terlihat sepanjang pelatihan berlangsung. Peserta aktif bertanya mengenai resep, teknik pembuatan, serta peluang pemasaran produk.
“Brownies yang kami buat sangat enak, bahkan tidak berasa singkongnya. Ini peluang bagus untuk dipasarkan di pasar lokal maupun lebih luas,” ungkap salah satu peserta pelatihan.
Respon positif ini menjadi bukti bahwa singkong dapat bersaing sebagai bahan utama produk kuliner yang berkualitas tinggi.Tak hanya menyasar pada proses produksi, pelatihan juga menyentuh aspek penting lainnya, yaitu ekonomi dan pangan.
Dosen Ekonomi Pembangunan, Jihad Lukis Panjawa, S.E., M.E., menyampaikan perhitungan harga pokok produksi (HPP) dari masing-masing produk olahan yang dibuat. Dengan memahami HPP, mereka dapat menentukan harga jual yang wajar sekaligus memperoleh keuntungan tanpa mengabaikan daya beli konsumen.
"Jika dihitung, bahan untuk satu loyang brownies kukus ini sangat terjangkau, tetapi bisa dijual dengan nilai tambah cukup tinggi jika dikemas menarik dan dipasarkan dengan tepat," menurut Jihad Lukis Panjawa.
Peserta juga dibekali pemahaman tentang kebersihan dan keamanan pangan. Dosen Teknologi Pangan Untidar, Muhammad Iqbal Fanani Gunawan, S.TP., M.Si., menyampaikan pentingnya keamanan dan fungsional pangan dalam proses produksi.
“Kebersihan bahan, alat, dan tempat produksi harus dijaga ketat agar produk yang dihasilkan memenuhi standar keamanan pangan dan nyaman dikonsumsi konsumen," tutur Muhammad Iqbal Fanani Gunawan, S.TP., M.Si.
Dijelaskan pula mengenai kandungan produk olahan singkong. Salah satu informasi menarik yang disampaikan oleh dosen teknologi pangan adalah bahwa produk brownies dan soft cookies yang dibuat dalam pelatihan ini tergolong sebagai produk vegetarian.
Kombinasi manfaat kesehatan dan cita rasa membuat produk ini berpotensi menjadi produk pilihan dalam industri pangan lokal.
Ketua KWT Desa Sambak, Tutik Purwaningsih, berterimakasih atas kesempatan yang diberikan oleh tim dosen dan mahasiswa Untidar dalam kegiatan ini.
“Pelatihan yang diberikan sangat bermanfaat. Selain ilmu dan keterampilan, kami juga mendapatkan wawasan untuk mengembangkan usaha pangan lokal. Kami berharap segera dapat mengaplikasikan ini demi meningkatkan pendapatan,” ujar Tutik Purwaningsih.
Pada akhir kegiatan, Dinar Melani Hutajulu menyerahkan bantuan kepada perwakilan KWT, berupa perlengkapan penunjang dan bahan baku pembuatan brownies dan soft cookies sebagai bagian dari stimulus dalam keberlanjutan pembuatan produk.
Dengan pelatihan ini diharapkan anggota KWT Desa Sambak dapat terus mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh, membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Pemberdayaan kelompok wanita tani lewat inovasi pengolahan hasil pertanian lokal seperti singkong sekaligus memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.
Dengan dukungan dan sarana yang memadai diharapkan produk olahan hasil pertanian Desa Sambak semakin dikenal dan diminati pasar luas. Semangat ibu-ibu KWT Desa Sambak menjadi semangat baru dalam meningkatkan ekonomi kreatif melalui pemanfaatan potensi lokal. (ima/web/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo