RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Segala persiapan untuk program sekolah rakyat di Kabupaten Magelang terus dikawal. Program ini di Kabupaten Magelang akan dilaksanakan di dua lokasi, yakni di Sentra Antasena Magelang dan di Tegalrejo.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai sekolah rakyat selaras dan berkelanjutan dengan program seribu sarjana setiap tahun yang saat ini terus didorong dan dirumuskan.
"Tentunya ini selaras dengan program seribu sarjana yang ada dalam visi misi untuk mengentaskan kemiskinan dengan ilmu pengetahuan," ungkap Grengseng Pamuji.
Bupati menegaskan Pemerintah Kabupaten Magelang berkomitmen untuk mendorong ilmu pengetahuan menjadi basic pengentasan angka kemiskinan. Menurutnya, dengan program pendidikan berjenjang angka kemiskinan bisa ditekan.
Sementara Kepala Sentra Antasena Magelang Supriyono mengatakan, hingga batas akhir pendaftaran pada 30 April 2025, ada 155 calon siswa yang mendaftar di sekolah rakyat. Sentra Antasena menyelenggarakan empat rombel atau 100 siswa.
Setelah dilakukan seleksi administratif, ada 142 pendaftar yang telah memenuhi persyaratan. Dari jumlah itu, dia juga masih harus mengelompokkan pendaftar yang masuk ke desil 1 atau 2 sesuai verifikasi di lapangan.
Dari hasil evaluasi, seleksi dan pengecekan di lapangan, pihaknya mendapatkan 110 calon siswa. Sebanyak 100 orang untuk empat rombel, dan 10 cadangan.
“Jika nanti ada yang mundur atau tidak lolos seleksi lainnya seperti kesehatan, kita sudah siap untuk penggantinya,” ucapnya.
Pihaknya telah menyiapkan gedung sejak 14 April lalu. Ada ruang kelas, asrama, dapur, ruang makan, laboratorium, serta ruang guru.
Sementara itu, Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono menjelaskan, selain mempersiapkan tempat, pihaknya juga mengecek kondisi para calon siswa apakah sudah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan apa belum.
Pada Rabu (4/6) lalu, Agus Jabo sudah mengecek langsung ke sejumlah rumah calon siswa sekolah rakyat. Seperti kondisi rumah Ely Nur Lamela di Dusun Gunungsari Kulon, Desa Jogomulyo, Kecamatan Tempuran yang luasnya 42 meter persegi cukup memprihatinkan.
Atapnya lapuk dan bocor. Keluarga ini tercatat dalam desil 3 Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), sehingga Ely dinilai layak menerima bantuan karena kondisinya serta menunjukkan komitmen kuat untuk melanjutkan pendidikan.
Ely bersyukur dan berharap setelah lulus sekolah rakyat dapat mewujudkan cita-citanya. "Saya bercita-cita sebagai prajurit TNI Angkatan Udara," kata Ely dengan mata berkaca-kaca.
Wamensos juga berkunjung ke rumah calon siswa Annisa Dwi Pangestu. "Calon siswa atas nama Annisa Dwi Pangestu anak kedua dari pasangan Eko Haryanto dan Siti Kusriatun ini merupakan dari keluarga tidak mampu," ungkap Agus Jabo.
Diharapkan dengan keberadaan sekolah rakyat nantinya mampu mengentaskan keluarga dari angka kemiskinan.
"Pak Presiden tidak mau kalau orang tuanya tidak mampu masuk dalami kategori miskin anaknya nanti ikut miskin. Pak Presiden ingin memuliakan orang-orang yang tidak mampu dan ingin anak-anak Indonesia terus sekolah setinggi-tingginya," jelas Agus Jabo.
Calon siswa sekolah rakyat, Annisa Dwi Pangestu mengaku sangat senang bisa masuk program sekolah rakyat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas.
"Senang bisa melanjutkan sekolah untuk bisa mengejar cita cita menjadi guru," kata Annisa.
Ia tidak masalah jika harus tinggal di asrama saat kegiatan belajar mengajar nanti. Karena justru akan meringankan beban orang tua. Terlebih untuk kebutuhan sehari-hari sudah difasilitasi oleh pihak sekolah. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo