RADARMAGELANG.ID, Mungkid--Pemasangan stairlift di salah satu akses naik ke Candi Borobudur, Kabupaten Magelang untuk menyambut Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto pada 29 Mei mendatang itu terus menuai pro dan kontra.
Pemasangan alat bantu mobilitas kursi bermotor yang dipasang di sepanjang rel pada sisi tangga untuk memudahkan lansia atau penyandang disabilitas saat naik dan turun tangga ini dinilai bisa merusak bangunan cagar budaya.
Apalagi selama ini sudah ada pembatasan pengunjung naik ke puncak Candi Borobudur 1.200 orang per hari demi menjaga candi Buddha ini tidak mengalami kerusakan.
Termasuk, penggunaan sandal Upanat bagi pengunjung yang naik ke puncak Candi Borobudur.
Namun PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memastikan pemasangan stairlift telah didasarkan pada standar Outstanding Universal Value (OUV) yang ditetapkan oleh UNESCO berdasarkan kajian Heritage Impact Assessment (HIA).
“Jadi kami sudah berkali-kali dengan Kementerian Kebudayaan berdiskusi supaya kita in sure bahwa apa yang kita lakukan ini sesuai dengan Outstanding Universal Value dari UNESCO,” jelas Direktur Utama InJourney Maya Watono kepada media di Komplek Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa (27/5/2025).
Maya memastikan, stairlift yang dipasang ini juga merupakan hasil diskusi dengan UNESCO serta Kedutaan Prancis bahwa semua fasilitas prasarana ini tidak merusak candi.
Dan ini sesuai dengan HIA.
Selain itu, lanjut Maya, stairlift ini bentuknya bongkar pasang.
Bentuknya adalah portable, sama sekali tidak ada bor, paku, maupun penetrasi kepada batu candi.
“Jadi sifatnya ini dipastikan mengedepankan tidak merusak struktur candi. Sekali lagi ini mengedepankan serta menjunjung tinggi universal value dari yang ditetapkan UNESCO dari Heritage Impact Assessment,” tandasnya.
Apalagi penambahan stairlift ini juga sudah dilakukan di beberapa destinasi wisata dunia.
Seperti di Acropolis of Athens yang ada di Yunani, serta di Great Wall juga ada lift.
Karena ini memang sesuatu hal yang sangat biasa.
“Kami ingin ini juga ada di Borobudur, sebagai rencana jangka panjang yang sudah kita siapkan,” ujarnya.
Menurut Maya, pengadaan stairlift juga bisa untuk mengakomodasi para biksu yang memiliki kendala mobilitas.
“Kita tahu Candi Borobudur ini curam sekali, 46 derajat dan sangat licin,” ucapnya.
Selain itu, sarana tersebut juga ditujukan untuk memfasilitasi lebih banyak wisatawan yang ingin naik ke struktur Candi Borobudur.
"Itu bisa (jadi) solusi permanen untuk (Candi) Borobudur," tambah dia.
Akan tetapi, Maya menambahkan, rencana stairlift permanen tetap mempertimbangkan kajian dari pihak-pihak terkait.
Untuk saat ini memang fokusnya digunakan untuk fasilitas penunjang kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto pada 29 Mei mendatang.
“Stairlift ini rencananya dipasang hingga satu pekan mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu wisatawan asal Garut Jawa Barat Hani Nurhayani menyampaikan, pemasangan stairlift ini sebenarnya tidak apa-apa.
Asalkan tidak merusak struktur candi.
“Apalagi penyediaan sarana ini juga digunakan untuk menyambut kedatangan tamu negara (Presiden Prancis). Jika bisa memberikan kesan yang terbaik tentang Indonesia, kenapa tidak?” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Magelang. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto