RADARMAGELANG.ID, Mungkid – Wahana tong stand atau lebih dikenal tong setan memiliki daya tarik tersendiri di pasar malam.
Bagaimana tidak, pengujung akan disuguhkan atraksi pemotor yang mengemudikan kendaraan roda dua berkecepatan tertentu, berjalan berputar-putar di silinder kayu setinggi 5 meter, dengan kemiringan yang nyaris vertikal.
Menariknya lagi, joki tong setan akan menampilkan beberapa atraksi gaya yang tak biasa. Seperti memegang stang dengan kedua kaki.
Joki tong setan juga memiliki kemampuan beratraksi sambil mengambil saweran dari penonton, tanpa terjatuh.
Jawa Pos Radar Magelang berkesempatan mewawancarai joki tong setan yang sedang mengikuti pasar malam di Lapangan Garonan, Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Namanya Timy Alvaro. Ia bergabung dengan grup pasar malam Aneka Ria dari Klaten.
Timy bercerita, dibutuhkan keterampilan khusus untuk bisa bermain di arena tong setan.
Ia memulai pengalamannya menjadi joki tong setan pada tahun 2014 lalu. Sampai saat ini, sudah 10 tahun ia setia menjadi joki tong setan.
Mulanya, Timy seorang urbanisan dari Klaten ke Jakarta. Di ibu kota itu, ia mengadu nasib sebagai pedagang kaki lima (PKL).
Ia pun ditawari oleh seorang teman untuk berlatih menjadi joki tong setan. Dengan alasan penghasilan dan pekerjaan yang lebih menantang, Timy menerima tawaran itu.
“Saya belajarnya sebulan, dan itu susah sekali,” aku Timy, Kamis (19/12/2024).
Ia harus bisa melawan rasa pusing dan menahan mual berhari-hari. Bahkan suatu ketika, ia tak bisa makan sepekan hingga harus mendapat penanganan medis.
“Nahan pusingnya itu yang susah Mbak. Muntah-muntah, nggak doyan makan. Pusingnya nggak hilang-hilang,” akunya.
Namun permainan tong setan ini membuatnya banyak belajar untuk bisa mengendalikan diri, berlatih keseimbangan, menguatkan mental, dan memiliki jiwa pantang menyerah—meskipun jatuh berkali-kali saat latihan. Tanpa bekal ini, keterampilan menjadi joki tong setan mustahil bisa didapat.
“Latihan harus setiap hari sampai bisa. Kalau sudah terbiasa, pusing itu hilang sendiri. Kita juga bisa mengatur dan menjaga keseimbangan saat bermain,” tuturnya.
Timy menyadari, jumlah pemain tong setan saat ini makin sedikit. Ia juga masih ingat saat awal latihan, banyak anak-anak muda yang tertarik untuk mengikuti. Namun tak banyak yang bertahan.
“Dulu banyak banget yang ikut latihan. Tapi yang bertahan cuma dua,” ujarnya.
Saat ini, Timy berduet dengan rekannya, Antok. Atraksi yang dilakukan secara bersama-sama menjadi bagian yang cukup sulit. Dibutuhkan konsentrasi lebih, agar tidak saling bertabrakan.
“Kalau sudah sering main bareng, jadi ada feeling. Saling memahami satu sama lain,” imbuhnya.
Ketika beraksi Timy dan rekannya menampilkan sekitar tujuh gaya. Mulai dari berkendara normal, duduk menyamping, duduk bersila, berdiri, lepas stang, sampai menyetang dengan kedua kaki.
Disawer, Makin Semangat
Selain mendapatkan omzet dari penjualan tiket wahana, saweran dari penonton menjadi tambahan penghasilan Timy dan kawannya.
Meski berkendara dengan kecepatan tinggi, ia mampu melihat para penonton yang ingin memberikan saweran.
Timy berharap, pasar malam akan selalu diminati masyarakat di tengah gempuran acara-acara dan wahana permainan yang lebih modern.
“Semoga pasar malam selalu ramai, dan rekan-rekan (pasar malam) sehat selalu, sehingga bisa menyuguhkan hiburan untuk masyarakat,” pungkasnya.
Pasar malam yang ada di Lapangan Garonan, Desa Banyubiru ini akan buka sampai malam pergantian Tahun Baru 2025. (put/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo