RADARMAGELANG.ID, Mungkid-- Kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sirojul Munir di Dusun Grogol, Desa Tanjungsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang sangat memprihatinkan.
Pasalnya, hanya ada tiga ruangan yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Sedangkan ruangan lain mengalami kerusakan parah hingga bisa membahayakan para siswa dan guru saat belajar.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Magelang, Jumat (13/9) pagi, bangunan madrasah bercat hijau yang sudah berdiri lebih dari setengah abad itu sepintas masih terlihat kokoh.
Namun jika dilihat lebih dekat, tampak atap bangunan sudah bergelombang serta kondisi di dalamnya kurang layak.
Madrasah ini memiliki enam ruangan. Namun hanya tiga ruangan yang bisa digunakan untuk belajar mengajar.
Tiga ruangan lainnya tidak difungsikan, karena atapnya bocor dan rapuh.
Pihak sekolah tidak ingin mengambil resiko jika tiba-tiba plafonnya roboh.
Praktis, hanya ada tiga kelas yang siap digunakan untuk proses belajar-mengajar.
Karena itu, proses belajar mengajar siswa digabung dengan kelas lain dalam satu ruangan.
Saat ini, madrasah yang berdiri sejak 1967 ini hanya memiliki 20 siswa, mulai kelas 1 hingga kelas 6.
Proses pembelajaran terpaksa digabung karena ruang kelas terbatas.
Misalnya, kelas 1 dan 2 digabung menjadi satu karena masing-masing hanya memiliki empat dan dua siswa.
Sedangkan kelas 3 ada tujuh siswa, kelas 4 dan 5 juga digabung menjadi satu kelas karena masing-masing hanya memiliki dua dan tiga siswa.
Sedangkan kelas 6 hanya terdiri dua siswa.
Kepala MI Sirojul Munir, Fatkhul Ma'arif mengatakan, sebelum memiliki bangunan ini, proses belajar-mengajarnya berpindah-pindah tempat ke setiap rumah.
Baru pada 1986, menetap ke bangunan ini hingga sekarang.
Ia mengaku, di awal menjabat kepala madrasah sejak 2009, jumlah siswanya cukup banyak.
Kala itu, jumlah siswa 54 anak, bahkan pada 2015 jumlah siswa mencapai 98 anak.
“Tapi sejak 2018, terjadi penurunan siswa hingga saat ini hanya 20 anak. Jumlah (siswa) yang keluar dan masuk tidak sebanding,” terangnya.
Padahal siswa yang bersekolah di MI Sirojul Munir tidak dipungut biaya alias gratis.
“Seluruh biaya sekolah, digratiskan,” ucapnya.
Dia menyebut, pada 2018, pihaknya pernah mengajukan proposal bantuan sarana prasarana kepada sejumlah instansi, seperti DPR RI maupun Kemenag.
Namun untuk mendapat bantuan tersebut, madrasah harus memenuhi persyaratan tertentu, khususnya terkait jumlah siswa.
Pada 2020, madrasah kembali mengajukan bantuan dan hendak mendapat kucuran Rp 105 juta untuk pembangunan gedung.
Namun bantuan itu urung diberikan karena jumlah siswanya tidak mencapai batas minimal yang ditentukan, yakni 75 siswa.
Kejadian serupa juga dialami pada 2022 yang saat itu madrasah mengajukan proposal lewat DPRD Kabupaten Magelang untuk diteruskan kepada DPR RI.
“Jadi sampai saat ini berbagai upaya sudah kami lakukan untuk mencoba memperbaiki fasilitas di sekolah. Namun semuanya terbentur dengan jumlah siswa yang semakin tahun semakin menurun,” keluhnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto