Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Menyemarakkan Tri Suci Waisak, Anak-anak Difabel Melukis Batik Stupa dan Candi Borobudur

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Sabtu, 18 Mei 2024 | 17:37 WIB
Menyemarakkan Waisak, anak-anak difabel membatik di atas kain bertema Candi Borobudur dan stupa di Pendopo Taman Anggrek, Mungkid, Jumat (17/5/2024).
Menyemarakkan Waisak, anak-anak difabel membatik di atas kain bertema Candi Borobudur dan stupa di Pendopo Taman Anggrek, Mungkid, Jumat (17/5/2024).

RADARMAGELANG.ID, Mungkid–Tri Suci Waisak 2568 BE/2024 juga dirayakan oleh anak-anak difabel di kawasan Borobudur.

Mereka tergabung dalam Yayasan Swadaya Bunda Borobudur. Anak-anak memeriahkan acara dengan membatik bertema Waisak, seperti Candi Borobudur dan stupa.

Puluhan anak berkebutuhan khusus tampak asyik menggambar di kain. Dengan menggunakan canting dan malam.

Mereka serius membuat gambar stupa maupun Candi Borobudur dengan teknik membatik di Pendopo Taman Anggrek, Mungkid, Kabupaten Magelang Jumat (17/5/2004) pagi.

Dengan peralatan seadanya, anak-anak tunagrahita ini terlihat senang dan menikmati setiap coretan batik yang dilukiskan di selembar kain putih.

Ketua Yayasan Swadaya Bunda Borobudur, Istining Rahayu menyampaikan, kegiatan ini sangat positif. Karena misi berdirinya Sekolah Swadaya Bunda untuk memberikan wadah anak-anak disabilitas berkreasi.

“Di momen Waisak ini, kita juga ingin mengajak anak-anak kami bisa menghargai perbedaan dan menghargai para pemeluk agama lain. Khususnya umat yang akan merayakan Hari Waisak,” ucap Isti kepada Radar Magelang.

Meskipun hanya melalui gambar batik, Isti ingin, anak-anak ini juga bisa merasakan semaraknya perayaan Tri Suci Waisak 2568 BE/2024 yang akan dilaksanakan di Candi Borobudur.

Melalui gambar ini, Isti juga ingin, anak-anak bisa paham dan mengerti soal apa itu perayaan Waisak.

Sementara itu, koordinator acara membatik Apollo Widhiatmoko mengatakan, anak-anak diberi kebebasan mengekspresikan dan berkarya sesuai imajinasi mereka soal Waisak.

“Jadi bisa dilihat di sini ada gambar stupa Candi Borobudur. Dan mungkin itulah yang tersirat di benak anak-anak soal perayaan waisak,” terangnya.

Apollo menyampaikan, kegiatan ini rutin dilakukan setiap seminggu tiga kali. Sebagai pegiat wisata, dirinya juga ingin mengajak dan berbagi kesenangan kepada anak-anak difabel. (rfk/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#Tri Suci Waisak 2568 BE 2024 #candi borobudur #Yayasan Swadaya Bunda Borobudur #membatik #Mungkid #Anak-anak Difabel