RADARMAGELANG.ID, Muntilan- Menjadi sajian khas yang bisa dinikmati di waktu berbuka puasa, Jemunak menjadi hidangan tradisional yang lekat setiap bulan Ramadan dan sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Kudapan khas asal Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang ini selalu tersedia dan diburu sebagai kuliner berbuka puasa. Sebab, tidak menimbulkan efek kenyang berlebihan.
Berbahan dasar singkong dan ketan, Jemunak menjadi salah satu kudapan manis yang selalu diburu oleh masyarakat.
Jemunak hanya bisa diperoleh di bulan Ramadan saja.
Untuk bulan lainnya tidak dijual.
Tempat produksi Jemunak sendiri tidak hanya terfokus di satu tempat.
Tapi pembuatan Jemunak tersebar di sejumlah dusun di Desa Gunungpring.
Kebanyakan dari mereka meneruskan resep leluhur yang telah diwariskan hingga berganti generasi.
Salah satu tempat produksi Jemunak di Gunungpring, Muntilan adalah Jemunak Mbah Mul, di Dusun Karaharjan.
Produksi Jemunak Mbah Mul saat ini diteruskan oleh Poningsih dan adiknya, Kasmirah, yang merupakan generasi kelima.
Aktivitas membuat Jemunak dimulai pukul 07.00 dengan mengupas singkong dan dicuci bersih.
Kemudian diparut kasar.
Sembari mempersiapkan parutan singkong, juga mengukus beras ketan hingga kondisi setengah matang.
Dua bahan baku ini kembali dikukus hingga matang.
Setelah itu, barulah dicampur dan ditumbuk hingga halus. Setelah menjadi adonan yang kenyal, Jemunak akan dibungkus menggunakan daun pisang dan siap disajikan.
Kasmirah, generasi kelima Jemunak Mbah Mul mengatakan, Jemunak ini sudah ada turun-temurun dari mbahnya.
Jemunak hanya dibuat di bulan Ramadan saja, dan merupakan kudapan khas Gunungpring, Muntilan.
“Hanya ada saat puasa. Di hari biasa, nggak ada. Kalau ada pesanan pun, kami nggak mau (membuat),” katanya.
Ia bisa membuatnya karena dulu membantu orang tuanya, dan diwariskan dari generasi sebelumnya.
Konon, Jemunak merupakan akronim dari bahasa Jawa ketemu kepenak.
“Habis puasa makan ini bisa bikin kenyang dan banyak yang bilang nemu kepenak,” jelasnya.
Kasmirah mengatakan, dalam sehari, ia menghabiskan 25 kg ketela dan 5 kg beras ketan.
Sehari ia bisa membuat 750 bungkus, dan dijual dengan harga Rp 3.000 per bungkus.
Dewi Anggraeni, salah satu pembeli mengaku, rasa Jemunak itu enak.
Ada manisnya dari gula jawa. Seperti makan ketan lupis.
“Aku juga baru kali ini nemuin makanan enak Jemunak ini,” katanya setelah mencicipi Jemunak.
Iin Ratri, salah satu pembeli lainnya mengaku, citra rasa Jemunak sangat unik.
Cita rasanya lebih gurih dengan perpaduan manis dan ada rasa kelapanya.
“Makanan Jemunak selalu berseliweran di beranda IG saya, jadi bikin saya penasaran,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto