RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Banyuurip menampung sampah warga Kota Magelang dan beberapa wilayah sekitar untuk fungsi teritorial. Dalam sehari, sedikitnya 60 hingga 70 ton sampah dipasok ke TPSA ini. Tidak dibiarkan begitu saja, sampah-sampah tersebut kemudian diolah menjadi beberapa produk.
“Untuk saat ini, pengelolaan sampah di TPSA Banyuurip masih terbatas pada pengelolaan gas metana dan pupuk kompos,” ungkap Kepala UPT TPSA Banyuurip Dede Panca Permana kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Dede menjelaskan, limbah gas metana itu dipergunakan untuk menyalakan kompor. Sedangkan beberapa penguraian sampah organik, seperti daun diolah menjadi pupuk kompos.
Penggunaan gas metana sempat dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk keperluan memasak pada 2014. Namun penggunaan tersebut tidak bertahan lama, karena pada 2015 masyarakat mulai beralih membeli gas secara mandiri. Sehingga saat ini gas metana digunakan oleh pihak TPSA secara internal untuk penelitian mahasiswa dari berbagai universitas, seperti Universitas Diponegoro, Universitas Tidar, Universitas Muhammadiyah Magelang, dan universitas lain di sekitarnya.
Sedangkan untuk limbah organik yang diolah menjadi kompos, dibagikan kepada warga yang membutuhkan pupuk secara gratis. Selain itu, pihak TPSA Banyuurip juga mengelola air lindi atau limbah yang berasal dari pemaparan air hujan di timbunan sampah.
“Cairan limbah ini berbahaya dan beracun karena mengandung senyawa organik dan anorganik yang tinggi. Senyawa itu terbentuk dalam landfill yang merupakan akibat dari air hujan yang masuk di tumpukan sampah tersebut,” jelasnya. (mg23/aro)
Editor : Lis Retno Wibowo