Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Bangkitkan Potensi Desa, Nindya Hadirkan Harapan Baru bagi Petani Singkong Lewat Omah Slondok Bu Kasih

Magang Radar Magelang • Senin, 3 November 2025 | 03:53 WIB
Nindya, pengelola sekaligus pemilik dari UMKM Omah Slondok Borobudur
Nindya, pengelola sekaligus pemilik dari UMKM Omah Slondok Borobudur

RADARMAGELANG.ID, Mungkid Desa Tuksongo, yang terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dikenal luas sebagai tujuan wisata edukatif yang kaya pengalaman.

Berbagai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh maju dan berkembang di kawasan ini, salah satunya adalah UMKM Omah Slondok Bu Kasih Borobudur.

Omah Slondok Bu Kasih Borobudur bukan sekadar destinasi wisata biasa. Usaha berbasis edukasi ini lahir dari visi dan kepedulian Nindya, seorang lulusan Agroteknologi, yang kini menjadi pengelola sekaligus pemilik UMKM ini.

Bermula dari keresahannya melihat langsung harga singkong yang hanya berkisar Rp500 per kilogram.

Nindya akhirnya menawarkan untuk membeli singkong petani dengan harga hampir Rp2.500 per kilogram, sebagai bentuk dukungan nyata agar para petani bisa mendapatkan penghasilan yang layak.

Usaha ini menghadirkan olahan slondok 100% dari singkong, tanpa campuran tepung sedikit pun.

Keistimewaan utama slondok di sini adalah teksturnya yang tipis, renyah, dan tidak keras, berbeda dari slondok tradisional di daerahnya yang kebanyakan berbentuk cincin dan agak tebal.

Nindya menggunakan resep turun-temurun dari sang nenek, yang kemudian dikreasikan tanpa meninggalkan citarasa asli.

Proses pembuatan slondok menggunakan dua jenis singkong pilihan, yaitu singkong Sumatra dan Klenteng, karena teksturnya lebih pas dan tidak lengket.

Proses pembentukan adonan slondok
Proses pembentukan adonan slondok

Singkong dikupas, dicuci bersih, lalu dikukus selama satu jam agar matang sempurna. Setelah itu, singkong dibersihkan dari serat atau sontrot.

Pengolahan slondok meliputi pencampuran bumbu yang sederhana, bawang putih dan garam untuk rasa original, cabai segar untuk varian pedas, dan ketumbar untuk varian rasa ketumbar. 

Campuran ini kemudian digiling dan dijemur di bawah sinar matahari.

Setelah kering, slondok langsung digoreng dan minyaknya disaring dengan mesin spinner dryer, kemudian dikemas dan siap dipasarkan. 

UMKM Slondok Bu Kasih Borobudur mampu menghasilkan puluhan kilogram slondok setiap harinya.

Volume produksi tersebut disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja yang membantu dalam proses produksi.

Meski pemasaran online belum berkembang, Omah Slondok pernah mendapatkan pelanggan dari luar negeri seperti Jepang dan Amerika, menunjukkan potensi besar produk lokal ini.

Salah satu tantangan terbesar yang dialami Nindya adalah cuaca.

Karena belum memiliki oven pengering, usaha ini pernah membuang hingga 50 kilogram slondok akibat berjamur saat musim hujan. 

Harapan besar Nindya adalah agar Omah Slondok Bu Kasih dapat terus berkembang dan sukses, tidak hanya sebagai bisnis pengolahan makanan, tetapi juga sebagai sumber penghidupan utama bagi para petani di Desa Tuksongo.

“Harapannya ya bisa saling bersinergi, tidak hanya bisa menjual dan memasarkan produk tapi juga bisa membantu perekonomian para petani di desa ini,” tutur Nindya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (30/10/2025). 

UMKM Omah Slondok Bu Kasih hanya berjarak 5 menit dari Candi Borobudur, tepatnya di Jalan Ganjuran No.1, Pulon, Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. (mg7/mg9)

Editor : H. Arif Riyanto
#UMKM #petani singkong #slondok #Tuksongo #borobudur #Kabupaten Magelang #singkong #kuliner #kuliner magelang #potensi desa