RADARMAGELANG.ID - Magelang merupakan sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Tengah yang terkenal dengan berbagai kuliner legendarisnya.
Mulai dari gethuk, kupat tahu, hingga sop senerek, semua tersedia di kota ini.
Namun, tahukah kamu, di Magelang terdapat sebuah toko roti dan es krim yang eksis sejak era sebelum kemerdekaan dan masih beroperasi hingga saat ini sudah menginjak generasi ketiga.
Berawal dari tahun 1926 di Ambarawa, usaha yang mulanya menjual roti ini didirikan oleh Kwee Keegie, lalu berkembang di Magelang pada 1936.
Kini, usaha tersebut diteruskan oleh oleh Muljono Prodjohartono, 83, bersama sang istri, Farida Sumantio, 80.
Produk andalan mereka adalah es krim potong dengan perpaduan rasa klasik mocca, cokelat, dan vanila.
Semua es krim dibuat sendiri dengan bahan pilihan, bahkan tersedia varian khusus seperti es krim stroberi dan es krim isi buah untuk pesanan tertentu.
Harga es krim dipatok mulai Rp12.000 per potong, Rp15.000 untuk cup, hingga paket besar seharga Rp150.000–Rp250.000.
Selain es krim, roti dan kue kering juga menjadi daya tarik utama.
Setiap pagi, roti diproduksi secara fresh dan siap dijual sejak pukul 09.00 WIB.
Varian yang tersedia juga beragam, seperti roti bakery dengan range harga Rp10.000–Rp13.000, lapis Surabaya seharga Rp140.000, hingga kue kering mulai Rp90.000.
Meski tak pernah menghitung jumlah pasti produksi dalam sehari, namun Farida mengaku rotinya akan mendapat banyak pesanan di hari-hari tertentu.
“Biasanya yang paling laris tuh saat lebaran, natal, dan imlek. Tapi yang paling banyak dipesan untuk lebaran, buat dikasih ke keluarga ataupun disediakan untuk tamu,” ujar Farida saat ditemui pada Senin (1/9/2025).
Farida juga menuturkan bahwa toko rotinya sudah memiliki langganan tetap yang tidak hanya berasal dari Kota Magelang, namun juga dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Salah seorang pelanggan, Naya, 20, mengaku tertarik dengan es krim potong yang dijual setelah melihat ulasan di sosial media.
“Awalnya lihat di sosmed ada yang review es krim ini, terus penasaran karena keliatan menarik. Akhirnya nyoba untuk beli dan ternyata enak,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas, bahan baku sebagian besar diperoleh dari Magelang.
Namun, jika stok terbatas, mereka rela mendatangkan dari Bandung, Jakarta, atau Semarang.
Prinsip utama usaha ini adalah mempertahankan mutu dan cita rasa agar tidak kalah dengan toko roti baru yang terus bermunculan.
Usaha keluarga ini dijalankan dengan dukungan empat orang karyawan.
Meski sederhana, keberlanjutan usaha ini menjadi harapan utama keluarga.
“Semoga usaha ini bisa terus berjalan, setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi sekarang,” ucap Farida dengan penuh harap.
Toko buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 16.30 WIB.
Es krim potong tetap menjadi primadona, menjadi bukti bahwa resep lama yang terjaga bisa terus dicintai lintas generasi. (mg9/mg7/aro)
Editor : H. Arif Riyanto