Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Nasi Liwet Sayangan Temanggung, Turun-Temurun hingga Generasi Ketiga, Menu Sarapan yang Gurih Lezat

Devi Khofifatur Rizqi • Senin, 19 Mei 2025 | 17:57 WIB
Mbah Yah, menjual nasi liwet setiap hari di Jalan Sayangan, Temanggung.
Mbah Yah, menjual nasi liwet setiap hari di Jalan Sayangan, Temanggung.

RADARMAGELANG.ID, Temanggung - Nasi liwet Sayangan, salah satu kuliner legendaris di Temanggung. Penjualnya turun temurun, dari simbah-simbahnya. Saat ini sudah generasi ketiga. Cita rasanya, jangan tanya, juara.

Mbah Yah, 65, masih tetap setia menjajakan menu sarapan khas Solo yang legendaris. Ia merupakan generasi ketiga yang menjual nasi liwet atau nasi gurih dengan suwiran ayam dan kuah santannya.

Berada di belakang pos polisi Sayangan,  Kelurahan Butuh,  Temanggung, pecinta kuliner bisa menjumpai menu sarapan legendaris yang sudah dikelola generasi ketiga.

Mbah Yah, setia menjual menu warisan dari neneknya. Ia biasa membuka lapak mulai pukul 06.00 hingga pukul 09.00 pagi. Jika terlalu siang sedikit, nasi liwet Mbah Yah sudah habis diserbu pelanggan.

Nasi liwet komplit, ada telur, ayam suwir, tahu, sayuran, kuah khasnya hanya Rp 15.000. "Nggih, biasane jam 06.00 pagi mulai jualan. Sendirian di sini, kalau pulang dijemput suami dibantu bawa barang-barangnya," ujar nenek 65 tahun yang enggan menyebut nama komplitnya.

Nasi liwet Sayangan racikan Mbah Yah ini harganya terjangkau.
Nasi liwet Sayangan racikan Mbah Yah ini harganya terjangkau.

Mbah Yah mengaku, sudah berjualan nasi liwet khas Solo sejak tahun 90-an. Namun, ia hanya meneruskan perjuangan neneknya yang merupakan warga asli Solo.

Dahulu, neneknya berjualan keliling dari rumah ke rumah untuk menjual nasi liwet.

"Sekarang saya mapan di Sayangan ini. Punya banyak pelanggan tetap. Kalau itu ramai. Kadang ada yang nitip gorengan dan laris juga," ceritanya.

Setelah neneknya meninggal, jualan nasi liwet itu diteruskan ibu Mbah Yah. Kemudian, Mbah Yah sebagai generasi ketiga meneruskan berjualan di Jalan Sayangan Temanggung.

"Kalau saya lahir di Temanggung. Tapi masakannya ya turun temurun," ujarnya.

Nasi liwet milik Mbah Yah, disajikan dengan alas daun pisang. Tangan tuanya yang renta, perlahan mengambil tiap centong nasi dan lauk pauknya.

Rasa nasi yang gurih dipadukan dengan telur, suwiran ayam, dan kuah kental yang khas membuat pelanggan ketagihan.

Apalagi terdapat sayur pepaya muda dan beberapa irisan tahu, menambah nikmat nasi liwet ini.

Rasa otentik nasi liwet dan suasana dingin Temanggung saat pagi hari, menambah selera untuk lagi dan lagi menyantap nasi racikan Mbah Yah.

Disediakan air minum gratis untuk pelanggan. Air minum itu tersaji dalam ceret ketel dan gelas.

Meski tempatnya berjualan terkesan sederhana, namun pelanggan Mbah Yah datang dari berbagai kalangan.

Mulai anak muda, pelajar, hingga pegawai pemerintah. Pelanggan juga berasal dari berbagai daerah.

Termasuk wisatawan yang datang ke Temanggung. Mbah Yah ingin melestarikan warisan resep nasi liwet ini. Ia berharap agar selalu sehat dan bisa berjualan setiap hari. (dev/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#nasi liwet sayangan #pecinta kuliner #temanggung #khas solo #turun-temurun