RADARMAGELANG.ID, Magelang--Sudah 20 tahunan Pak Trimo berjualan soto.
Sekarang usahanya dipegang Arizal, anaknya, dengan didampingi Pak Trimo sendiri.
Uniknya,meski jualan di gang dan masuk perkampungan warga, soto ini tetap menjadi tujuan sarapan warga Magelang dan sekitarnya.
Tak jarang pembeli dari luar kota datang kesini untuk menikmati soto Pak Trimo.
Apalagi di musim mudik, pembeli dari luar kota akan meningkat.
Sebelum pindah di Jalan DI Pandjaitan Gang Jambon Kidul No 363, Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah pada 2004, dulunya Pak Trimo sempat berjualan di depan Mapolsek Magelang Tengah.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 05.30-11.00, kecuali hari Senin.
"Karena di hari minggu biasanya ramai pembeli, nah hari seninnya kami memilih istirahat," kata Arizal kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (30/1/2025).
Setiap harinya warung soto Pak Trimo ini menghabiskan 25-40 ekor ayam.
"Kalau weekend bisa 40-an ekor ayam. Weekday ya 25-an ekor," tutur Rizal --sapaan akrabnya.
Dalam berjualan, Pak Trimo dan anaknya tidak sendiri, namun dibantu delapan pekerja saat weekday, dan weekend dibantu hampir 15-an pekerja.
Meski pindah di gang, rasa menu sotonya tidak berubah dan tetap enak.
Kuncinya di rempah kuah sotonya.
Apalagi proses pembuatannya masih menggunakan tungku bahan bakar arang untuk menghasilkan api.
"Itu masak kuahnya, nggorengnya masih pakai arang. Karena kalo pakai arang itu rasanya lebih enak," tutur salah satu pekerja di warung soto Pak Trimo, Podo Kuncoro, kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Satu porsi soto seharga Rp 15.000.
Dalam satu mangkok soto terdapat nasi, irisan tahu bacem, toge, mihun, ayam suwir besar, kuah yang ngaldu, dan perkendel.
Pembeli juga bisa tidak menambahkan perkedel, karena topping lain juga ada di sini, yaitu sate ayam, sate jeroan kulit, gorengan, dan perkedel.
Topping paling favorit adalah sate ayam dengan harga Rp 3.000 per tusuk, dan sate jeroan kulit Rp.7000 per tusuk.
"Semua menu dibuat sendiri, tapi untuk sate ayamnya titipan dari orang untuk dijualkan," katanya.
Tempat ini meskipun berada di gang, namun bisa dibilang warungnya luas.
Hal tersebut karena ada dua lokasi untuk makan para pembeli yang berbatasan dengan tembok.
Meja dan kursinya saja bisa diduduki 8 sampai 10 orang.
Tempat makan bagian kanan selain untuk makan juga menjadi lokasi utama yaitu letaknya gerobak dan tempat memasak.
Sedangkan bagian kiri untuk makan saja dengan tempat yang termasuk luas.
Biasanya pembeli memarkir motornya di depan warung, di jalanan gang ini dengan dibantu tukang parkir dengan tarif Rp 2000.
Warung soto Pak Trimo dulu memiliki cabang di Jogja.
Namun karena pandemi yang membuat pengunjung menurun, akhirnya tutup.
Sekarang, selain buka di Magelang, soto Pak Trimo juga membuka di Salatiga.
Namun untuk nama warung soto di Salatiga sendiri berbeda, yaitu "Soto Pak Atmo."
Nama tersebut diambil dari pengelolanya yaitu Pak Atmo yang merupakan adik Pak Trimo. Untuk saat ini belum ada rencana membuka cabang lagi. (najwa amalia husna/aro)
Editor : H. Arif Riyanto