Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Dawet Mak Cowek, Warisan Segar dari Pasar Ngasem Kota Magelang, Sudah Ada sejak 65 Tahun Lalu

Magang Radar Magelang • Selasa, 28 Januari 2025 | 22:21 WIB
Dawet legendaris yang ada di pasar ngasem kota magelang
Dawet legendaris yang ada di pasar ngasem kota magelang

RADARMAGELANG.ID - Dawet Mak Cowek bukan sekadar minuman pelepas dahaga, tetapi juga legenda kuliner khas Magelang yang bertahan lintas generasi.

Berlokasi di Pasar Ngasem, di tepi Kali Manggis, dawet ini telah menjadi saksi sejarah kuliner Magelang sejak 1960 atau sudah 65 tahun lalu.

Dengan rasa yang khas dan harga ramah di kantong, Dawet Mak Cowek selalu ramai diserbu pembeli, mulai dari warga lokal hingga wisatawan.

Nama Mak Cowek diambil dari generasi ketiga yang kini meneruskan usaha keluarga ini.

Awalnya, usaha ini dikenal sebagai Dawet Magelangan dan dirintis oleh neneknya.

Pada masa itu, sang nenek menjajakan dawetnya secara keliling di pasar malam dan acara pacuan kuda.

Bahkan, mereka sempat menetap di Stasiun Magelang (yang kini menjadi Terminal Kebonpolo).

"Dulu nenek saya jualannya keliling, bahkan pernah mangkal di stasiun. Tapi pas stasiun itu mau direnovasi, kami diminta pindah, akhirnya menetap di Pasar Ngasem sampai sekarang," cerita Mak Cowek sambil melayani pelanggan.

Setiap pagi, mulai pukul 06.00, Mak Cowek sudah siap dengan dagangannya.

Dalam sehari, dawet yang dijualnya biasanya ludes sekitar pukul 12.00.

Namun, jika Anda berencana mencicipi dawet ini, hindari datang pada hari Senin, karena Mak Cowek memilih hari itu untuk beristirahat alias libur berjualan.

Cita rasa Dawet Mak Cowek memang khas.

Perpaduan sempurna antara manisnya gula merah dan gurihnya santan.

Selain cendol dan cincau yang menjadi bahan dasar, isian dawet kini lebih lengkap dengan tambahan tape, pleret, dan roti.

"Kalau komplet, harganya Rp 5 ribu per mangkok. Kalau cuma cendol dan cincau, cukup Rp 4 ribu saja," jelasnya.

Photo
Photo

Proses pembuatannya pun dilakukan secara tradisional untuk menjaga kualitas rasa.

Setiap malam sekitar pukul 23.00, Mak Cowek mulai membuat cincau dan cendolnya sendiri.

Daun cincau didatangkan dari daerah Candimulyo, Kabupaten Magelang.

Sedangkan cendolnya dibuat dari tepung beras sebanyak 1,5 kilogram setiap harinya.

"Kalau dulu pas zaman nenek, cendolnya pakai pati garut. Sekarang pakai tepung beras, lebih praktis dan rasanya tetap enak," tambahnya.

Dawet ini disajikan dalam mangkok kecil yang sederhana, tetapi pembeli juga bisa membawanya pulang dengan dibungkus rapi.

Selain dawet, Mak Cowek juga menjual sate dan menerima titipan gorengan dari pedagang lain.

Semua bahan, kecuali roti, diolah sendiri untuk menjaga kualitas rasa yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu ini.

Kisah perjalanan Dawet Mak Cowek ini mencerminkan bagaimana sebuah tradisi kuliner bisa bertahan di tengah perubahan zaman.

Dari menjajakan dagangan secara keliling, menetap di Stasiun Magelang, hingga akhirnya berlabuh di Pasar Ngasem, Dawet Mak Cowek tetap menjadi ikon kuliner Magelang yang tak lekang oleh waktu. (rifda nabila/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#legendaris #Pasar Ngasem #Dawet Mak Cowek #Kota Magelang