RADARMAGELANG.ID, Magelang - Membuat soal tidak cukup hanya dengan memastikan pertanyaan dan pilihan jawaban tersedia.
Guru juga perlu mengetahui apakah setiap butir soal benar-benar mampu mengukur kompetensi peserta didik.
Kebutuhan inilah yang mendorong Universitas Tidar (Untidar) menggandeng MGMP Bahasa Indonesia SMP Kota Magelang menggelar Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Assessment Literacy Guru Bahasa Indonesia melalui Klinik Asesmen dan Analisis Kualitas Butir Soal di MGMP Kota Magelang.”
Program tersebut dilaksanakan melalui dua pertemuan tatap muka, yakni 3 dan 24 Agustus 2026 pukul 09.00–12.00 WIB, serta pembelajaran mandiri selama Agustus.
Baca Juga: Guru Biologi Temanggung Diajak "Menembus" Sel melalui STEM Berbasis Teknologi Virtual Reality
Sasaran kegiatan adalah guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam MGMP SMP Kota Magelang.
Program memang dirancang untuk memperkuat pemahaman asesmen, keterampilan menyusun instrumen berbasis HOTS, sekaligus kemampuan menganalisis kualitas butir soal.
Kebutuhan pelatihan ini bukan tanpa alasan. Dari total 70 anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP Kota Magelang, sebanyak 30 guru mengikuti pemetaan kondisi awal.
Hasilnya, 23 responden atau 76,7 persen mengaku pernah melakukan analisis butir soal.
Namun, praktik tersebut belum menjadi kegiatan rutin dan sistematis.
Analisis lebih banyak dilakukan pada asesmen tertentu, sementara penilaian harian maupun penugasan belum selalu dianalisis.
Kondisi itu diperkuat Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP Kota Magelang, Adi Nugroho Indriyanto, S.Pd.
Secara nonformal, ia mengakui analisis butir soal belum dilakukan secara rutin.
“Untuk rutin melakukan analisis butir soal belum. Malah kalau diadakan dari Untidar kami senang sekali. Kami sudah berterima kasih sekali diberi program dan pelatihan,” ujarnya.
Dari Literasi hingga Analisis Soal
Pertemuan pertama berlangsung di SMP Negeri 9 Magelang, Senin (3/8/2026), dengan menghadirkan Dr. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. sebagai narasumber.
Materi “Literasi dan Asesmen” mengajak guru memahami literasi sebagai kemampuan memahami, mengolah, dan merespons informasi, termasuk membaca data, memahami survei, hingga menarik kesimpulan.
Guru juga mendapatkan penguatan mengenai asesmen dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia, termasuk soal berbasis stimulus dan Pilihan Ganda Kompleks (MCMA).
Pada pertemuan kedua, Senin (24/8/2026), Dr. Theresia Pinaka Ratna Ning Hapsari, M.Pd. memberikan pendampingan melalui coaching clinic.
Guru tidak hanya diarahkan menyusun soal, tetapi juga mengembangkan instrumen untuk menilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pendekatan klinik membuat peserta tidak berhenti pada teori.
Guru diarahkan menyusun, menelaah, memperbaiki, dan menganalisis instrumen agar dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah masing-masing.
Model ini memang dirancang sebagai pendampingan berbasis praktik dan kolaborasi.
Salah satu peserta, Rizna Aderia Putri, S.Pd., Gr, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan tersebut.
“Saya sangat terkesan dengan adanya pelatihan ini. Materinya sangat relevan dan aplikatif untuk kebutuhan kami selaku tenaga kependidikan di lapangan,” ujarnya.
Menurut Rizna, kegiatan tersebut memberikan informasi baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ia berharap kolaborasi serupa terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi pendidikan di Kota Magelang.
Adi menambahkan, sinergi Untidar dan MGMP merupakan bentuk nyata usaha bersama memajukan pendidikan.
“Semoga kerja sama yang sudah terbangun dengan kokoh ini bisa menjadi fondasi nyata, bahwa insan pendidikan di Kota Magelang terus berproses dan bertumbuh bersama,” katanya.
Melalui PKM tersebut, Untidar dan MGMP tidak sekadar menggelar pelatihan, tetapi berupaya menumbuhkan budaya asesmen yang lebih berkualitas.
Sebab, di balik setiap nilai yang diterima siswa, ada kualitas instrumen yang menentukan seberapa tepat guru memahami capaian belajar mereka. (rls/dev/lis
Editor : Lis Retno Wibowo