RADARMAGELANG.ID, Magelang--Sebuah bangunan baru mempercantik kawasan pusat Kota Magelang. Pura Jagat Natha yang berada di kompleks Alun-Alun Kota Magelang kini memasuki tahap akhir pembangunan. Rencananya, pura akan diresmikan pada Sabtu Legi (26/9/2026), bersamaan dengan kegiatan Melaspas.
Keberadaan tempat ibadah umat Hindu ini menarik perhatian karena lokasinya berdampingan dengan sejumlah rumah ibadah lain, termasuk Gereja Santo Ignatius dan GPIB Beth-El. Pura Jagat Natha melengkapi keberadaan Masjid Agung Kota Magelang dan Kelenteng Liong Hok Bio di kawasan jantung Kota Magelang ini. Kondisi tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu gambaran keberagaman dan toleransi antarumat beragama.
Pura Jagat Natha berdiri di atas lahan berukuran 9 meter x 25 meter. Bangunannya mengusung konsep arsitektur Tri Mandala, yang membagi kawasan pura menjadi tiga bagian. Yakni, Utama Mandala sebagai area paling suci untuk beribadah; Madya Mandala sebagai area untuk rapat, taman, merakit sesaji, ada arca Dewa Wisnu dan Dewa Brahma, serta Nista Mandala sebagai balai kumpul dan ada Dewa Ganesha.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Magelang I Gede Mahardika menjelaskan, dalam pembangunannya material batu yang digunakan berasal dari tiga daerah. Yakni, batu Gunung Merapi yang dibuat di Muntilan, batu dari Banyuwangi yang dibuat dari pasir laut, serta batu yang didatangkan dari Bali.
“Pak Wali Kota Damar Prasetyono hanya memberikan waktu pembangunan Pura Jagat Natha tiga bulan. Jika hanya mengambil batu dari satu tempat saja, tidak akan terkejar waktunya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Setelah diresmikan, sejumlah ibadah rutin akan digelar di pura ini. Seperti saat bulan purnama dan bulan tilem. Selain itu, ada ibadah bulan suci, kira-kira 10 kali dalam satu tahun. “Kalau ditambah ibadah bulan tilem sekitar 24-25 kali,” bebernya.
Jika umat Hindu luar kota ingin beribadah di Pura Jagat Natha dipersilahkan, tapi tetap harus menghubungi pengurus pura. Sedangkan umat Hindu Magelang yang berjumlah sekitar 104-105 jiwa, jika ingin ibadah mandiri bisa setiap saat tanpa perlu menghubungi pengurus pura. “Untuk pengurus pura ada sekitar 5-10 orang,” ujarnya.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyo sempat menanam Pohon Mojo di kawasan Pura Jagat Natha. Sedangkan Wakil Wali Kota dr Sri Harso menanam Pohon Bodhi. Sementara Kepala Kemenag Kota Magelang menanam bunga Kantil. “Ketiga pohon itu memiliki makna. Pohon Mojo itu ada hubungannya dengan Hindu. Pohon Bodhi ada hubungaannya dengan Budha. Dulunya kan Hindu Budha itu adalah satu kesatuan. Sedangkan bunga Kantil bermakna keharuman agar orang-orang nyaman berada di pura yang harum,” jelasnya. (Mardiana Putri K-Dita Nurul A)
Editor : H. Arif Riyanto