Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Pedagang Daging Sapi Wadul DPRD Kota Magelang, Stok Sapi Langka, Harga Melambung

Puput Puspitasari • Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32 WIB
Anggota Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lokal Kota Magelang menyampaikan aspirasinya ke DPRD Kota Magelang atas ketidakpastian harga pasar, Jumat (19/6/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

 
Anggota Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lokal Kota Magelang menyampaikan aspirasinya ke DPRD Kota Magelang atas ketidakpastian harga pasar, Jumat (19/6/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)  

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Di sela aksi mogok berjualan selama tiga hari hingga Sabtu (20/6) hari ini, pedagang daging sapi di Pasar Rejowinangun mengadu ke DPRD Kota Magelang, Jumat (19/6/2026). Mereka berharap wakil rakyat dapat memberikan solusi dan secercah harapan di tengah impitan harga sapi yang kian mahal. 

Pedagang Nanik P mengatakan, aksi mogok berjualan tiga hari tersebut merupakan kesepakatan anggota Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lokal Kota Magelang. Tindakan ini bukan tanpa alasan. Mereka mendesak Pemkot Magelang untuk segera mengambil tindakan nyata terhadap kondisi yang mengancam kelangsungan usaha mereka.

“Bayangkan, harga sapi hidup di tingkat hulu terus melonjak di kisaran Rp 60.000-Rp 65.000 per kilogram, sementara kami masih harus mempertahankan harga jual daging agar terjangkau, demi menjaga daya beli masyarakat,” tuturnya di ruang sidang DPRD Kota Magelang.

Keputusan itu bagai buah simalakama. Pedagang akhirnya harus menanggung rugi setiap harinya. Tapi jika memaksakan diri menjual tinggi, dagangannya justru tidak laku pembeli. “Ketidakpastian harga dari pemasok membuat kami tidak memiliki kepastian modal usaha dari hari ke hari, sehingga kami juga kesulitan merencanakan keberlangsungan usaha secara stabil,” keluhnya.

Pihaknya juga menyoroti kelangkaan stok sapi, karena 100 persen Kota Magelang mengandalkan sepenuhnya dari luar kota. Sehingga sapi yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) juga didistribusikan ke daerah-daerah lainnya. Karena itu, pihaknya meminta Pemkot Magelang untuk  mendahulukan pemenuhan dalam kota, sebelum dilempar ke luar kota.

Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang Yonas Nusantrawan Bolla mengatakan, kondisi ekonomi global turut memicu tingginya harga sapi hingga tingkat lokal. Data pemantauan harga pangan pokok di Kota Magelang menunjukkan kenaikan signifikan, dari rata-rata semula Rp 130.000, kini menembus batas psikologis masyarakat di harga Rp 150.000 per kilogram.

“Kenaikan ini memang berdampak langsung pada penurunan omzet jagal/pedagang dan daya beli masyarakat rumah tangga, serta menekan profitabilitas ratusan UMKM kuliner lokal,” akunya.

Pada Idul Adha lalu, pemotongan hewan kurban di Kota Magelang mencapai 492 ekor sapi. Tingginya minat masyarakat dalam berkurban turut berimbas pada berkurangnya populasi sapi. Tidak dipungkiri pula, para blantik dari Ibu Kota berani membeli sapi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan harga yang lebih mahal.

Dalam menyelesaikan masalah tersebut, pihaknya mengaktifkan kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra surplus produsen sapi lokal, seperti Boyolali,  Blora, Temanggung, Magelang, dan daerah lainnya demi mengamankan kontinuitas pasokan barang. Selain itu, pihaknya mengupayakan kecepatan pengangkutan logistik, agar sapi dapat lebih cepat sampai ke RPH. Yonas menambahkan, pihaknya sedang merencanakan optimalisasi penyangga stok dengan cool storage.

Ketua Komisi B DPRD Kota Magelang Kevin Mahesa Amuwardhani mengaku senang bisa mendengar langsung keluhan dari pedagang daging sapi di pasar tradisional. Menurutnya, rantai distribusi yang mengalami banyak kendala memicu harga daging sapi melonjak. “Kita sudah dengar langsung dari mereka, sehingga faktor yang mempengaruhi akan kita kaji dengan stakeholder terkait,” tuturnya.

Saat ini, pihaknya tidak bisa gegabah memutuskan sesuatu. Pihaknya akan mengumpulkan informasi dari segala arah. Mulai dari peternak, penjual, pedagang daging, hingga masyarakat.

“Tapi, gambaran makronya sudah menangkap apa yang diinginkan, tetapi memutuskan kebijakan perlu waktu untuk mengkaji ini semua,” katanya. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#mogok jualan #Mengadu ke Dewan #daging sapi #PEDAGANG #DPRD Kota Magelang