Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Sensus Ekonomi, Warga Diminta Jujur: Ada yang Khawatir Terjadi Penyalahgunaan Data Finansial atau Omzet  untuk Perpajakan

Puput Puspitasari • Rabu, 17 Juni 2026 | 20:20 WIB
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dan Kepala BPS Kota Magelang Nurul Choiriyati menunjukkan atribut resmi yang dipakai petugas Sensus Ekonomi 2026, Rabu (17/6/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dan Kepala BPS Kota Magelang Nurul Choiriyati menunjukkan atribut resmi yang dipakai petugas Sensus Ekonomi 2026, Rabu (17/6/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang—Masyarakat diminta memberikan data yang jujur untuk menyukseskan gelaran Sensus Ekonomi yang berlangsung Mei hingga 31 Agustus nanti.

Kejujuran masyarakat menjadi pilar utama agar program sepuluh tahunan sekali itu menghasilkan potret ekonomi yang valid, terpercaya. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Magelang Nurul Choiriyati menyadari, kejujuran responden menjadi tantangan cukup besar dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi.

Menurutnya, masih ada masyarakat yang khawatir terjadi penyalahgunaan data finansial atau omzet  untuk perpajakan.

Padahal tidak demikian. Hasil Sensus Ekonomi digunakan untuk pondasi kebijakan ekonomi.  

“Kalau tidak jujur, maka struktur ekonomi kita akan bergeser,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Rabu (17/6/2026). 

Pihaknya telah membekali para petugas sensus agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, termasuk ketika sedang melakukan sesi wawancara dengan responden.

Dikatakan Nurul, Sensus Ekonomi 2026 memiliki jangkauan sasaran yang lebih luas, yakni seluruh masyarakat.

Sementara Sensus Ekonomi model lama hanya berfokus pada pelaku usaha dari skala mikro, kecil, menengah, hingga besar.

“Sekarang, petugas sensus tidak membawa berkas (kertas, Red), tapi sudah digitalisasi dan terintegrasi dengan pusat. Mereka pasti membawa handphone,” tuturnya. 

Setidaknya, petugas membutuhkan waktu 30 menit hingga 1 jam untuk mensensus setiap responden. Namun ada yang sampai 3 jam, karena yang disensus merupakan lansia.

Tidak hanya itu, tingginya mobilitas masyarakat membuat petugas kerap kecele—responden tidak berada di rumah saat petugas datang.

Menyiasati kondisi ini, pihaknya menerapkan sistem jemput bola dan memberlakukan jam kerja yang fleksibel bagi petugas sensus, agar bisa menyesuaikan waktu luang responden.  

“Karena target kita, 100 persen responden harus tercapai,” imbuhnya. 

Pihaknya juga menggandeng para pemangku kepentingan untuk melakukan pendampingan selama pelaksanaan Sensus Ekonomi.

Langkah kolaboratif ini diprioritaskan untuk menyasar sektor usaha skala besar yang memiliki sistem birokrasi atau keamanan yang ketat.

Karena itu, dilaksanakan penandatanganan komitmen bersama sinergi dan kolaborasi pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Ballroom Borobudur Puri Asri Resort.  

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono siap memberikan dukungan dan mengimbau masyarakat ikut menyukseskan sensus ekonomi.

Ia menekankan kejujuran masyarakat dalam memberikan informasi kepada petugas.

Ia meyakinkan masyarakat bahwa data Sensus Ekonomi akan menjadi landasan pemerintah dalam merumuskan kebijakan, menyalurkan bantuan, hingga merencanakan program-program strategis lainnya. 

“Data ekonomi sifatnya sangat dinamis, sehingga harus diperbaharui terus. Sebab, keluarga kurang mampu, tidak selamanya kurang mampu. Dalam bergantinya waktu, bulan, tahun, keluarga ini bisa menjadi mampu. Yang kemarin mampu, sekarang bisa saja tidak mampu,” tuturnya.

Pengawas Sensus Ekonomi Kelurahan Panjang Siti Asmonah mengaku, mempersiapkan fisik dan mental sebelum terjun ke lapangan.

Sebab responden yang dihadapi dari berbagai latar belakang dan memiliki karakter yang berbeda-beda.

“Kita harus tahu medan di RT dan RW,” akunya. 

Menurut Siti, setiap petugas sensus harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, agar masyarakat percaya dan bersedia untuk disensus.

Tidak dipungkiri, masih ada masyarakat khususnya kelas menengah yang takut dicoret sebagai penerima bantuan pemerintah, jika mereka memberikan data apa adanya. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#responden #jujur #bps #Sensus Ekonomi 2026 #Wali Kota Magelang Damar Prasetyono