RADARMAGELANG.ID, Magelang – Pameran Menyematkan Keselamatan menjadi ruang bagi sekelompok anak muda menampilkan karya paling personal dari perjalanan hidup mereka.
Karya itu lahir dari manifestasi pikiran dan rasa yang begitu dalam, serta menjadi cara mereka merayakan proses penting dalam meniti kehidupan.
Pameran yang diselenggarakan Komunitas Stick Around Initiative tersebut berlangsung di Call Me Coffee Roaster Intimate Bar.
Ada sepuluh seniman muda tergabung di dalamnya.
Mereka adalah A Fuad Ridlo, Budiyono, Evania Santosa, Filhamsy, Frutti Noventi, Gindring Wasted, Isnain Bahar, Rimi Lubab, Sayasani, dan Utami Atasia Ishii.
Mereka menampilkan karya beragam, mulai dari fotografi, instalasi, hingga lukisan.
Penulis Kury Yusuf menjelaskan, karya yang ditampilkan kali ini memenuhi unsur dekat.
Secara filosofi, dekat di sini memiliki makna kedekatan secara emosional dan kedekatan realitas kehidupan sehari-hari.
Kury mencontohkan, karya milik Gindring Wasted yang dibuat tahun 2015 nyatanya masih mewakili potret zaman sekarang.
Seniman yang berangkat dari latar belakang sebagai pemain mural/graviti itu melukis tokoh imajinatifnya dengan berbagai karakter, penuh warna.
Kata Kury, Gindring juga menyematkan kritik yang menohok, yakni “No more Truth Son”, atau tidak ada lagi kebenaran, karena semua manusia merasa paling benar.
“Karya ini sudah 10 tahun, tapi masih sangat relevan. Semua orang merasa benar, akhirnya tidak ada kebenaran, sulit mencari yang benar,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Karya tersebut tidak hanya visualisasi tutur batin sang seniman.
Tapi juga menjadi penyelamat kehidupan senimannya itu sendiri dalam hidup bersosial, yakni memperkuat batas diri agar tak mudah goyah.
Lebih dari itu, karya tersebut juga menjadi titik balik Gindring dari seniman jalan, kemudian karyanya mulai dilirik banyak orang—termasuk pemeran, Ganindra Bimo.
Karya menarik lain juga datang dari A Fuad Ridlo yang cukup berani menampilkan karya digital print berjudul The Forest.
Hutan yang disajikan bukanlah berasal dari deretan pohon, namun dari tiang-tiang internet yang menancap di bumi—yang dipotret di beberapa tempat.
Karya ini merespon pendirian tiang internet di lahan rumah sang ayah, tanpa izin.
Lukisan milik Utami Atasia Ishii turut menghiasi dinding kedai kopi yang berada di Kawasan Kebonpolo itu.
Dengan penuh percaya diri, ia menampilkan karya eksploratif dari visual sambal secara mikroskopik.
Seniman perempuan lainnya, Isnain Bahar mengikutsertakan karya uniknya berjudul Menjadi Dewasa.
Seniman yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan (nakes) di sebuah rumah sakit di Kota Magelang itu menyuguhkan karya seni media baru berupa instalasi digital.
Ia menampilkan gambar tengkorak kepala manusia dan beberapa sketsa fase kehidupan manusia.
Beberapa karya drawing berjudul Living Room dan Safe Oxygen Saturation bahkan laku terjual.
Kury menegaskan, pameran ini bukan sekadar menunjukkan eksistensi seniman muda di Magelang.
Tapi juga menjadi titik temu antara seniman dengan kolektor.
“Target kita pameran di sini adalah untuk menarik kolektor muda, agar mereka juga ikut mengapresiasi karya-karya seniman muda di Magelang,” imbuh Kury. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto