Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Pameran Drawing Sangkan Paraning Gambar di Loka Budaya Magelang, Angkat Krisis Ekologi dan Kritik Sosial

Puput Puspitasari • Rabu, 3 Juni 2026 | 00:16 WIB
Pameran drawing, Sangkan Paraning Gambar, dimeriahkan puluhan karya dari tujuh seniman, di Gedung Loka Budaya, sampai 7 Juni. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Pameran drawing, Sangkan Paraning Gambar, dimeriahkan puluhan karya dari tujuh seniman, di Gedung Loka Budaya, sampai 7 Juni. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Pameran drawing bertajuk Sangkan Paraning Gambar berhasil menghadirkan visual indah yang memanjakan mata.

Melalui goresan garis yang personal, ketujuh seniman yang terlibat dalam pameran ini mengajak pengunjung untuk merefleksikan batin dan pikiran dalam membaca kehidupan melalui karya-karya mereka.

Narasi-narasi kehidupan yang “antik” disajikan dalam puluhan karya yang ditata manis, menghiasi dinding Gedung Loka Budaya, di Alun-alun Selatan Kota Magelang. Karya-karya itu milik Cipto Purnomo, Cholil Ipeh, Kaji Habeb, Oentoeng Noe, Tomi MRDK, Wahudi, dan Yogi Setiawan.

Sang kurator, Edo Pop menjelaskan, sejak awal peradaban manusia, gambar lahir dari pengalaman manusia : rasa takut, harapan, ingatan, hingga usaha memahami kehidupan yang terus bergerak. Sejak itu, gambar telah menjadi bahasa pertama sebelum hadirnya sistem bahasa verbal.

“Dulu, manusia memiliki dorongan untuk meninggalkan jejak melalui gambar, karena sebelum bahasa tersusun sebagai sistem komunikasi, garis, bentuk, dan simbol, gambar telah hadir sebagai cara memahami dunia dan dirinya sendiri,” ucapnya, Selasa (2/6/2026).

Sementara itu, seniman, Kaji Habeb yang sekaligus ketua panitia menjelaskan, pameran kali ini memiliki keunikan. Pihaknya sengaja tidak membatasi tema, agar pesan-pesan yang disampaikan para seniman semakin luas. Namun tanpa disadari, seluruh karya memiliki satu kesamaan dalam menyampaikan sebuah asal usul dan arah tujuan gambar itu dibuat—yang digunakan untuk menceritakan hubungan ekologi antara kehidupan dan semesta.

Berangkat dari kesamaan itu, tema Sangkan Paraning Gambar akhirnya diangkat.

“Gambar tidak sebatas ekspresi estetis, tapi dia juga menjadi jalan pencarian dan perjalanan mencari kesadaran kemanusiaan juga spiritualitas yang bisa dirasakan,” tuturnya.

Karya-karya yang disuguhkan kali ini juga sarat makna kehidupan. Beberapa di antaranya menyiratkan kritik sosial.

Seperti milik Kaji Habeb, karya berjudul Ego yang Menyamar Jadi Kesadaran merepresentasikan para tokoh dan penguasa yang tanpa sadar mereka sedang memakai topeng keburukan. Namun mereka muncul dengan balutan kebaikan.

Kaji Habeb mencontohkan seorang tokoh yang menanggapi kritik dengan penuh kemarahan. Padahal seharusnya tidak perlu bereaksi demikian.  

“Jadi, ia tidak sadar sebenarnya topeng yang sedang ditampilkan itu adalah topeng keburukan, karena ia gagal menahan emosinya itu. Kalau saja kemarahan itu bisa ditahan, mungkin ia masih memakai topeng kebaikan. Itu adalah ego yang menyamar jadi kesadaran. Kebaikannya hanya samaran, kebijaksanaannya hanya penyamaran,” sentilnya.

Kritik tajam lainnya juga disampaikan oleh Wahudi melalui beberapa karyanya, salah satunya berjudul Akar Menolak Tumbuh ke Bumi.

Tidak hanya itu, seniman lainnya, Yogi Setiawan menyebut salah satu karyanya yang berbau kritik sosial, ia angkat dalam judul Gumun Karo Kebo. Ada alasan kuat mengapa ia menggambar kebo (kerbau) yang sering disimbolkan sebagai hewan bodoh, kini ia ibaratkan sebagai sesuatu yang tidak berguna. Ia sakit melihat berita-berita baik yang sering terkubur dengan berita yang tak bermanfaat—tapi malah lebih disukai masyarakat.

“Ada berita baik, tapi tertutup gara-gara berita perempuan simpanan pejabat. Tapi yang beritanya diikuti malah yang itu (perselingkuhan, Red) terus. Ini sia-sia, tidak ada manfaatnya,” ujarnya.

Pameran yang akan berlangsung sampai 7 Juni ini juga menampilkan karya Tomi MRDK, yang menggunakan kertas koran lawas sebagai salah satu media gambarnya. Kertas koran yang dipilihnya pun tak sembarangan. Ia menampilkan bagian berita yang paling fenomenal.

“Setelah saya menggunakan koran dari 1959 sampai era 1990, ternyata masalah politiknya sama dengan sekarang. Intinya dari dulu kita belum menyelesaikan apapun, malah diwariskan, dan sekarang semakin parah,” ujarnya.

Pada karyanya yang berjudul Retorika, Tomi memotong bagian koran yang menampilkan karikatur bertuliskan “Ngritik Dikit Dibilang Anti!”. Kemudian, ia menggambar ompreng di atasnya. Karya ini memprotes program makan bergizi gratis (MBG) yang kata pemerintah, program ini bertujuan mulia.

“Zaman sekarang kita disuguhkan program MBG dan pemerintah menyakinkan masyarakat ini adalah program baik. Realisasinya, banyak menu yang bermasalah, banyak yang keracunan.  Saat kritik disampaikan, pemerintah menanggapi kritik ini berasal dari orang yang berseberangan,” pungkasnya. (put)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#seniman #loka budaya #pameran #Kota Magelang